Adalah hal menarik bila kita menyimak berita seputar artis musik baik melalui media cetak maupun tayangan infotainment di televisi. Berita yang mengisahkan persengketaan hukum antara artis dan manajernya, artis dengan perusahaan rekaman atau bahkan dengan sesama anggota dalam satu grup band musik yang berujung ke meja hijau. Acap kali luput dari perhatian atau terlupakan oleh suatu grup band yang baru memulai karirnya atau bahkan yang telah lama adalah menentukan aturan main (rule of game) dalam band-nya sendiri. Kondisi ini dapat dipahami dan lazim terjadi karena pada awalnya grup band dibentuk tidak lebih dari sebuah pertemanan dari orang-orang yang memiliki hobi atau tujuan yang sama di bidang musik.
Perjanjian Band
Aturan main (rule of game) itu sebenarnya dapat ditemukan dalam Perjanjian Band (Band Agreement). Bagi sebagian grup band pemula memang agak risih membicarakan sesuatu yang terlalu 'formil' di awal pembentukan band yang baru saja dibentuk. Namun sebenarnya pandangan ini keliru, justru momen itulah yang tepat untuk merumuskan segala hal terkait dengan grup band ke depan. Momen di mana berbagai macam tawaran belum banyak berdatangan seperti tawaran rekaman, tawaran konser, tur, dan sebagainya.
Perjanjian Band (Band Agreement) bukan satu-satunya perjanjian yang terkait dengan grup band. Ada beberapa bentuk perjanjian lain, manakala grup band telah melakukan interaksi dengan pihak lain, seperti perjanjian dengan penulis/pencipta lagu (songwriter contract), manajer (management agreement), Agen (booking agent agreement), perusahaan rekaman (recording contract), publikasi (publishing contract), distributor (distribution contract), perusahaan iklan, event organizer tour (performance contract), atau dengan pihak-pihak ketiga lainnya melalui perjanjian lisensi hak reproduksi (reproduction license) untuk menuliskan lagu dalam bentuk cetak, hak sinkronisasi bila lagu digunakan dalam film (sychronization lisence), atau mechanical license oleh perusahaan rekaman, dan sebagainya. Tidak hanya itu, ada pula pernyataan tentang hak cipta atas karya musik bagi pencipta (assignment of musical work copyright) atau pernyataan tentang hak cipta atas rekaman suara bagi artis (assignment of sound recording copyright).
Berbagai bentuk perjanjian itu pada prinsipnya menggunakan kaedah perjanjian sebagaimana dimuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Tetapi bila ditelusuri lebih jauh dalam bisnis ini akan didapati kompleksitas ketersinggungan hukum dan bisnis, yang bila kurang jeli akan menuai masalah dikemudian hari atau dari sisi bisnis menjadi tidak menguntungkan. Grup band pada bagian ini harus menemukan ahli hukum yang menguasai bidang ini.
Penulis tidak bermaksud untuk menguraikan satu persatu berbagai bentuk perjanjian tersebut karena memang hal itu akan mudah ditemukan setelah grup band telah eksis. Pada kesempatan ini secara khusus akan dikaji beberapa hal penting seputar pembentukan grup band sebagai langkah awal yang sering luput dari perhatian para pendiri grup band, akan tetapi sering menjadi sumber permasalahan hukum.
Pentingnya Nama
Nama bagi suatu grup band sangat penting karena mampu menggambarkan identitas, ciri maupun karakter musik yang berfungsi sebagai pembeda dengan grup band lain. Di samping performa, nama yang baik dapat memudahkan proses pemasaran (marketing). Nama suatu grup band akan bernilai jual tinggi sejalan dengan popularitas grup band tersebut.
Hal penting setelah penentuan nama grup band adalah menentukan siapa yang berhak menggunakan nama tersebut dan siapa pemiliknya. Apakah milik kolektif anggota pendiri grup band atau salah seorang dari anggota grup band tersebut? Selanjutnya, apabila grup band bubar, siapa yang berhak menggunakannya? Klausul-klausul inilah yang mesti telah dimuat dalam Perjanjian Band (Band Agreement). Masalah nama grup band ini kadangkala dianggap sepele tetapi tidak sedikit yang menjadi akar permasalahan hingga ke pengadilan.
Kasus yang terjadi antara Kassbaum vs Steppenwolf Productions, INC dapat menggambarkan pentingnya nama bagi sebuah grup band. Nicholas Kassbaum adalah mantan pemain bass grup band "Steppenwolf". Steppenwolf adalah grup band rock yang dibentuk pada tahun 1967 oleh Jhon Kay, Jerry Edmonton, Michael Monarch dan Goldie McJohn. Sementara Kassbaum bergabung setahun setelah grup band dibentuk. Pada tahun itu pula baru dibuat "Perjanjian Kerjasama" (partnership agreement) yang menyatakan masing-masing anggota grup band memiliki kedudukan dan kepemilikan yang sama atas Steppenwolf. Steppenwolf makin dikenal dengan berbagai macam tawaran kontrak rekaman maupun konser. Kemampuan Kassabaum memberikan karakteristik tersendiri pada setiap penampilan Steppenwolf. Pada 1971, Kassabaum keluar dari grup band dan salah seorang pendiri, Jhon Kay, menyatakan Steppenwolf bubar. Namun, pada 1975 Kassabaum dan Goldie McJohn membentuk grup band baru dengan nama "The New Steppenwolf". Penggunaan nama baru itu menuai masalah karena dianggap memanfaatkan popularitas nama Steppenwolf sebelumnya. Akhirnya Kassabaum harus membayar $ 17.500,00 kepada Jhon Kay dan Steppenwolf Productions, INC untuk memperoleh hak ekslusif (exclusive right) menggunakan nama tersebut.
Pelajaran berharga dalam kasus Kassabaum di atas adalah urgensi menentukan kepemilikan dan penggunaan nama grup band. Boleh jadi pemilik nama band hanyalah satu atau dua dari anggota inti grup band. Bila demikian, maka tidak diperkenankan membagi kepemilikannya kepada anggota lain kecuali bila anggota yang bersangkutan telah menjadi anggota tetap grup band. Lantas, bagaimana penggunaan nama band bila grup band bubar? Maka ini pun mestinya telah diatur sebelumnya, oleh karena dapat saja sebuah perusahaan rekaman (record company) yang telah menginvestasikan berbagai hal pada grup band memiliki hak untuk menggunakan nama band tersebut bila grup bubar.
Realitas di atas setidaknya memberikan sinyal penting bagi anggota grup band pemula untuk mempersiapkan Perjanjian Band (Band Agreement) secara komprehensif atau mungkin bagi grup band yang sudah berkarir lama untuk me-review perjanjian dasar grup band ini guna mengantisipasi munculnya berbagai persoalan hukum ke depan.
Struktur Band
Anggota grup band dapat saja menentukan berbagai macam hal terkait dengan grup band-nya seperti kepemilikan nama band maupun pembagian keuntungan. Dengan kata lain, grup band bebas menentukan keinginannya untuk kemudian diterjemahkan dalam berbagai dokumen hukum. Lagi-lagi, di sini diperlukan ahli hukum yang kreatif dalam memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) dari grup band.
Bagi grup band sendiri perlu memutuskan bentuk struktur bandnya. Pilihan bentuk ini akan menerangkan pertanggungjawaban atas grup band dan berdampak pada tata cara masuknya anggota baru atau bahkan bagi anggota grup yang keluar. Sulit untuk mengatakan mana bentuk struktur yang paling baik. Namun, setidaknya ada 2 (dua) tipe umum dari suatu grup band, yaitu bentuk Perusahaan Terbatas (limited company) dan bentuk Kerjasama Perdata (partnership). Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga tergantung pada mana yang dianggap lebih menguntungkan bagi grup band.
Bila grup band memilih bentuk kerjasama perdata (partnership), maka Perjanjian Band (band agreement) yang dibuat pun berbentuk Perjanjian Kerjasama Band (Band Partnership Agreement). Perjanjian ini akan memuat bagaimana grup band beroperasi setiap hari, nama band maupun pemisahan aset dan sebagainya. Seluruh anggota grup band dalam bentuk ini memiliki kesetaraan dalam pembagian keuntungan maupun menanggung bila timbul kerugian. Struktur band dengan kerjasama perdata (partnership) ini sebenarnya telah diatur dalam Pasal 1618 KUH Perdata dengan istilah yang berbeda yakni, "Persekutuan". Dalam pasal itu diuraikan bahwa "persekutuan adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi keuntungan yang terjadi karenanya".
Di samping bentuk Partnership, grup band dapat memilih bentuk Perusahaan Terbatas. Dalam bentuk ini, karakteristik Perjanjian Band (band agreement) yang dibuat pun memuat Perjanjian Saham (shareholders' agreement). Dalam beberapa hal bentuk ini memiliki kelebihan dalam pemisahan aset pribadi, peningkatan efisiensi di bidang pajak, pembagian keuntungan dan sebagainya.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa sulit untuk mengatakan struktur band mana yang terbaik. Namun yang diingat adalah pilihan bentuk akan memberikan konsekuensi hukum berbeda bagi grup band dalam hal kepemilikan nama, keluarnya anggota dari grup band atau masuknya anggota baru, pertanggungjawaban atas aset serta pembagian keuntungan yang diperoleh.
Penutup
Adalah bijaksana bagi suatu grup band apabila dalam pencapaian karir musiknya tidak mengabaikan aspek hukum yang melingkupinya. Uraian penulis di atas, hanya beberapa dari sekian banyak kompleksitas perspektif hukum terhadap suatu grup band. Merumuskan formulasi terkait grup band akan mudah dilakukan dalam keadaan grup band belum ada masalah. Perspektif hukum pada awal pembentukan grup band adalah upaya efektif dalam menyiasati kemungkinan terjadinya masalah hukum di masa datang.
PERSPEKTIF HUKUM TERHADAP PEMBENTUKAN GRUP BAND
"Congrats Kurt, kamu udah sepuluh tahun bersama kami di sini. So let's celebrates!" ujar seorang orator ulung yang pernah hidup di bumi. Kurt lalu menyalami tangan temen-temennya itu. Ada Elvis, Jim, Cliff, Janis, John, Bob, Jimi, Fredie sampai Sid. Ini terjadi di suatu tempat yang tidak bisa disebutkan, tepat di tanggal 05 April 2004. Sudah sepuluh tahun Kurt datang dan berkumpul dengan mereka di sini. Bersama kelompok yang menamakan dirinya The Armageddon Rockstarz [untuk kalangan terbatas!]. Ikut mengibarkan bendera hitam bergambar kepala tengkorak yang konon dibuat oleh Kaisar Nero. This is the immortal post-life scene!...
Selebrasi dimulai. Api unggun dinyalakan. Di atas meja sudah tersedia beragam makanan. Roti Belgia, keju Swiss, celeng Galia dan kacang Turki. Juga kretek Jawa, cerutu Kuba dan daun Jamaika. Berbotol-botol arak Bali, bir Jerman dan anggur Prancis mulai dibuka tutupnya, plup!...
Sebuah band garage-rock diundang secara khusus dari bumi. Untuk memainkan musik yang katanya lagi hype di bawah sana. Namun semuanya terdengar sama saja. Di antara gelak tawa dan canda, tiba-tiba seorang pemuda tak dikenal yang berkaos 'lidah terjulur' datang sambil mengangkat selembar amplop...
"Kurt, barusan aku nemu surat di kotak gitar kamu. Nih!..."
Kurt bangkit menerima surat itu. Lalu dia buka perlahan...
Isinya beberapa lembar kertas A4. Agak lusuh. Kekuningan. Berisi barisan kalimat yang diketik rapi. Dengan spasi satu setengah dan font jenis Arial ukuran 11.
Kurt lalu pindah duduk di pojok. Membaca perlahan. Dalam hati. Menerawang. Something in the way...
On the earth, heaven and hell facts about Kurt Cobain
This letter is dedicated to my all-time favorite song-writer. There's so much I admired in him and it is ashamed that many great artist like Kurt Cobain ended up die not by his own will. For example John Lennon or Tupac Shakur, both are shot. However I'm here not to talk about them, but Kurt. This is my bow for his talent and braveness in facing life.
"Dari sapa Kurt?", tanya Fredie ingin tahu - sambil membelai punggung Jim [?!].
Kurt cuma diam. Menatap Fredie sebentar. Lalu terus membaca...
Kurt Donald Cobain was the former leader of Nirvana, the multiplatinum grunge band that redefined the sound of the nineties. He was born on the 20th of February 1967 in Hoquaim, a small town 140 kilometers south-west of Seattle.
Kurt berhenti sejenak. Mengancingkan flanel-nya.
Memicingkan mata. Mengerutkan dahi. Seraya berpikir...
"Mmhh, it's about me?!..."
Sementara temannya yang lain mulai mengelilingi Jim yang sedang menari ala Indian. Shaman. Jim merentangkan tangan. Dengan mata terpejam dia berputar-putar. Rupanya reaksi LSD sudah membakar darahnya. Setiap satu putaran semuanya berteriak, "C'mon baby light my fire!.."
Kurt once a happy child, always smiling, not being able to wait until the next day, but this has changed. He grew up became such an angry unhappy boy, this was reflect on his lyrics and musics. Maybe this was fueled a lot by his parent's divorce when he was seven. He became increasingly difficult, anti social and withdrawn, he never felt loved or secure again. Considering he was the only child so he must have faced this fact alone without someone to talk to. After his parent's divorce, Kurt found himself shuttled back and forth between various relatives and at one stage homeless living under a bridge.
Si Bob melirik Kurt sambil memainkan rambut gimbalnya.
Lalu berkata pelan padanya, "Everything gonna be alright, my friend."
Kurt mengangguk. Bob tersenyum, lalu melemparkan lintingannya. Jah!...
When he was eleven he heard and was captivated by the Britain's Sex Pistols. After their self-destruction, Kurt and friend Crist Novoselic continued to listen to the wave of British bands including Joy Division, the nihilistic post-punk band that some say Nirvana are directly descended from in form of mood, melody and lyrical quality.
"British conquers America! God saves the rock!"
Bendera Inggris raya diarak lari keliling api unggun oleh Sid.
"We'll never walk alone!" teriaknya membabi-buta.
"Yeah, never...never..." gumam John pelan.
Kurt's creativity and idealism attitude didn't win many friends in high school and sometimes earned him beatings from his so-called friends. But he got even by spraying their pick-up trucks "Queer".
"Kenapa aku gak boleh duduk di kursi itu?"
"Gak bisa! Kursi itu udah lama kami siapkan buat Ozzy. Suatu saat dia pasti datang!"
"Huh, Ozzy?! The MTV rockcraps?!..."
"No, he's the king of all metalheads! Trus kursi di sebelahnya itu milik Mick, lalu Pete, dan juga Roger!"
"Why not Britney??..."
Kurt formed and reformed a series of bands before Nirvana came to be in 1986. Nirvana was an uneasy alliance between Kurt, bassist Crist Novoselic and eventually drummer multi-instrumentalist Dave Grohl.
"Eh, kenapa Euronymous gak dateng ya?"
"Mmhh, tadi aku liat dia sedang asyik baca buku Dialog Dengan Jin..."
By 1989 Nirvana recorded their rough-edged first album Bleach for local Seattle independent label Sub-Pop. In Britain, Nirvana received a lot of recognition and in 1991 Geffen bought their contract, they signed to the mega-label, the first non-mainstream band to do so. Two and a half year after Bleach, they releases Nevermind, a series of different, crunching, screaming songs that along with it's first single Smells Like Teen Spirit would propel Nirvana to a mainstream stardom.
Janis naik ke atas meja. Mengangkat kedua tangannya. Lalu berteriak...
"Give me a D...R...U...G....S... please spell it guys?!"
"Drugs!" jawab mereka serempak.
Kurt fell into heroin in the early 90's. He said he used it as a shield against the rigorous demands of touring and to stop the pain of stomach ulcers or an irritated bowel. Through the touring and pressure, Kurt continued to write his very personal acutely focused lyrics.
"Benarkah kamu dulu hates your own self and want to die?!", tanya Sid yang sampai sekarang masih yakin kalau titel 'Nevermind' itu terinspirasi dari album dia dulu. Nevermind The Bollocks! Pistols Shock USA!...
Kurt tidak menjawab. Sid kesel, "Huh, all Americans are craps!..."
Kurt was distressed to find out that what he wrote and how it was interpreted could quite often be miles apart. He was shocked when he found out that apparently two men had sung Polly, a heavily ironic anti-rape song, as they raped a young girl. He later appealed to fans on their newest album, Incesticide liner notes; "If any of you don't like gays or women or blacks, please leave us the fuck alone."
It was to no avail, Kurt found out that as an overnight millionaire musician control was something he had very little of. Kurt also worried that his band had sold-out, that it was attracting the wrong kinds of fans [i.e. the type that used to beat him up].
After that, In Utero and MTV Unplugged albums was released. The previous year he married the already pregnant Courtney Love and later in the same year, his daughter Frances Bean Cobain was born.
After his performance with Nirvana for MTV Unplugged in November 1993, Kurt was registered for some detox program in Los Angeles but fled after only few days of the program. He also had committed unsuccessful suicide bid in which he washed down about 50 prescription painkillers with champagne.
"Haha, drugs won't kill you!', seru Jimi ngakak.
"No, not at all. Stop the guns dealer first, then the drugs dealer after thats!"
"And don't ever buy an apartment in Liverpool too...", sambung John.
"So that's why the world is so deadly, yeuh!"
Semua tertawa...
Kurt was cited in the Seattle area with a shotgun. Days later on the 5th of April 1994, Kurt went into the small room above his garage in his Seattle home and ended it all. He wrote a suicide note written in red ink addressed to Love and their 19 month old daughter Frances. The suicide note ended with the words, "I love you, I love you..."
Cliff menarikan jarinya di atas dawai bass. Dari fret ke fret. Jarinya berlari.
Lalu mendadak berhenti. Menatap kurt. Dan bertanya...
"Bagaimana rasanya menembak kepala sendiri?!"
Sambil tetap memainkan intro lagu 'To Live Is To Die'...
Until now his suicide action was doubt by some people including myself, I believe that it was an act of murdered, because he had a new will made up by his lawyer giving Frances everything as he was going to divorce Love, but the will hadn't finished made yet. So do you think he would have committed suicide before he knew Frances would get everything? Besides, there were defense marks on his arms indicating that someone forcibly hit him up with more heroin that he wanted to do and with that level of heroin I don't think he had the strength to lifted the gun and shot himself in his mouth, get up after that put all his heroin needles back nicely leave his wallet lying out his cards right in the open and wipe everything clean of prints! It couldn't have been easy, try it sometimes. Can't forget the door that could only be locked from outside, and guess what? It was locked!...
Dengan gitar bolongnya, Janis teriak dan bernyanyi...
"Rape me... Rape me, my friend... Rape me... Rape me again..."
Sejenak dia berhenti dan berseru, "These song for you Kurt!"
Kurt cuma tersenyum. Manis.
Lalu Janis nyanyi lagi, "I'm not the only one...Aaaaaaaa...."
I think the police was paid for not investigated this. What about there were only a few drops of blood which would indicate that his heart had stopped pumping when he was shot? There was only a little blood trickling out of one of his ears while we know when a person shot in his mouth, a great amount of blood will flew up from his ears, if the person before is alive.
"Eh Kurt, udah denger Blink 182 yang baru? Gila man pokoknya!", tanya Elvis antusias.
Elvis emang lagi tergila-gila ama Blink 182. Terutama lagu 'I Miss You' yang menurutnya keren banget.
Fredie membantah. Menurutnya The Darkness itu yang paling cool untuk saat ini.
Keduanya lalu bertengkar. Bahkan hampir adu jotos.
Kurt tidak menggubris mereka berdua.
Dia masih terus membaca...
I think, and this is only my personal opinion, that kurt was murdered by his wife Courtney Love, or maybe someone she hired. This can be predict by her weird perfect alibi that she was in a hotel room soaked with drugs, and someone strangely called the police to pick her up to the police station at the exact time Kurt killed himself in his house, it's all really confusing. And why she didn't want to read Kurt suicide note completely to the public saying that it's none of the fans business? The note published in the internet was fake because it's not the same with the one she sung in a song tribute to Kurt and the one she read in some TV shows. Everyone knows that she married Kurt only for her own fame. She didn't love him, she didn't care about him and she will never do. The tears are obviously faked.
Tiba-tiba John menghampiri Kurt. Menyalaminya sambil berkata, "Congrats boy, sekalipun kau Amerikan, tapi kau lumayan berbakat. Musikmu memang bukan seleraku, tapi lirik kamu bagus. Aku senang kamu ada di sini..."
Nevertheless, this is from my personal opinion. The angry fans who furious that his idol has been taken away in such way. If you want to know the case, browse to the internet for his info and find out what really happen to him. Kurt cobain should have been 37 this year if he is alive and would have made more great songs.
Peace. Love. Empathy.
In the memory of Kurt Donald Cobain [RIP]
August 20th 1967 - April 5th 1994
Itu saja. Selesai sampai di situ surat yang dibaca Kurt.
Tanpa tanda tangan maupun nama pengirim.
Dia masih bingung. Siapa sih yang bikin surat ini?!
Kok sentimentil banget? Buat apa? Buat siapa?...
Sementara di ujung sana Jimi mulai membakar gitarnya di atas api unggun.
Sedangkan yang lain berdiri bergandengan tangan. Mengitari Jimi dan jilatan api yang sedang beraksi di puncak acara. Sambil menyanyikan lagu 'Kemesraan' yang di-medley dengan 'We Will Rock You'.
Kurt mulai sedikit tersenyum.
Antara lega, puas atau merasa geli?!
Dia cuma bisa diam sambil melirik banner digital print bertuliskan 'The Armageddon Rockstarz' yang terikat pada dua batang pohon pinus. Dia betah di sini...
"Mmh, biarlah misteri ini aku bawa mati," pikirnya dalam hati.
Kurt lalu melipat surat tadi. Memasukkan kembali ke dalam amplop. Perlahan. Hingga tiba-tiba matanya terhenti pada dua baris kalimat berukuran kecil. Dia dekatkan pandangnya dan membaca. Lalu sontak ia terbelalak kaget. Nafasnya mulai tersengal. Keringat dingin mengucur. Tangannya gemetar. Kurt seperti nyaris pingsan. Di tepi kiri atas amplop itu tertulis...
To : solidrock at malang indonesia
Isi : sumbangan esai
Nov. 01 - Pipeline Café - Honolulu, HI Order Tickets
Nov. 03 - The Showbox SoDo - Seattle, WA Order Tickets
Nov. 05 - Regency Cntr@ Grand Ballroom - San Francisco, CA Order Tickets
Nov. 07 - Wiltern Theatre - Los Angeles, CA Order Tickets
Nov. 08 - SOMA - San Diego, CA Order Tickets
Nov. 10 - Marquee - Phoenix, AZ Order Tickets
Nov. 11 - House of Blues - Las Vegas, NV Order Tickets
Nov. 13 - The Great Salt Air - Salt Lake City, UT Order Tickets
Nov. 14 - Ogden Theatre - Denver, CO Order Tickets
Nov. 15 - Sunshine Theatre - Albuquerque, NM Order Tickets
Nov. 17 - House of Blues - Dallas, TX Order Tickets
Nov. 18 - House of Blues - Houston, TX Order Tickets
Nov. 19 - Stubbs - Austin, TX Order Tickets
Nov. 21 - The Tabernacle - Atlanta, GA Order Tickets
Nov. 22 - House of Blues - Orlando, FL Order Tickets
Nov. 23 - House of Blues - Myrtle Beach, SC Order Tickets
Nov. 25 - Irving Plaza (moved from Roseland Ballroom) - New York, NY Order Tickets
Nov. 26 - Starland Ballroom - Sayreville, NJ Order Tickets
Nov. 28 - Rams Head Live - Baltimore, MD Order Tickets
Nov. 29 - The Palladium - Worcester, MA Order Tickets
Nov. 30 - Electric Factory - Philadelphia, PA Order Tickets
Dec. 02 - The Medley - Montreal, QC Canada Order Tickets
Dec. 03 - Imperial - Quebec City, QC Canada Order Tickets
Dec. 05 - Kool Haus - Toronto, ON Canada Order Tickets
Dec. 06 - Royal Oak Music Theater - Royal Oak, MI Order Tickets
Dec. 07 - Agora Ballroom - Cleveland, OH Order Tickets
Dec. 09 - The Rave - Milwaukee, WI Order Tickets
Dec. 10 - House of Blues - Chicago, IL Order Tickets
Dec. 12 - MYTH - Minneapolis, MN Order Tickets
Dec. 13 - Burton Cummings Theatre - Winnipeg, MB Canada Order Tickets
Dec. 15 - Events Centre - Edmonton, AB Canada Order Tickets
Dec. 16 - MacEwan Hall - Calgary, AB Canada Order Tickets
Dec. 19 - Croation Cultural Centre - Vancouver, BC Canada Order Tickets
ULTRA BEATDOWN EUROPEAN TOUR 2009
Special guest: Turisas
Wed 28th Jan - Netherlands, Tilburg - 013 Order Tickets
Thu 29th Jan - Netherlands, Amsterdam - Melkweg Max Order Tickets
Fri 30th Jan - Belgium, Hasselt - MOD Order Tickets
Sat 31st Jan - France, Paris - Elysee Montmartre Order Tickets
Mon 2nd Feb - France, Bordeaux - Barbie Order Tickets
Tue 3rd Feb - Spain, Barcelona - Apolo Order Tickets
Thu 5th Feb - Portugal, Lisbon - Cine Teatro Corrios Order Tickets
Fri 6th Feb - Spain, Madrid - Heineken Order Tickets
Sat 7th Feb - Spain, Bergara - Jam Order Tickets
Mon 9th Feb - Italy, Milan - The Rolling Stone Order Tickets
Tue 10th Feb - Switzerland, Pratteln - Z7 Order Tickets
Thu 12th Feb - Hungary, Budapest - A38 Order Tickets
Fri 13th Feb - Austria, Vienna - Szene Order Tickets
Sat 14th Feb - Slovenia, Maribor - Stuk Order Tickets
Mon 16th Feb - Germany, Munich - Backstage Order Tickets
Tue 17th Feb - Germany, Stuttgart - Die Rohre Order Tickets
Thu 19th Feb - France, Strasbourg - La Laiterie Order Tickets
Fri 20th Feb - Germany, Cologne - Underworld Order Tickets
Sat 21st Feb - Germany, Hamburg - Knust Order Tickets
Sun 22nd Feb - Germany, Berlin - Kato Order Tickets
Tue 24th Feb - Denmark, Copenhagen - Vega Order Tickets
Wed 25th Feb - Sweden, Gothenburg - Brewhouse Order Tickets
Fri 27th Feb - Norway, Oslo - John Dee Order Tickets
Sat 28th Feb - Sweden, Stockholm - Tyrol Order Tickets
Mon 2nd Mar - Finland, Oulu - Teatria Order Tickets
Tue 3rd Mar - Finland, Helsinki - Tavastia Order Tickets
Thu 5rd Mar - Russia, St. Petersburg - Club Orlandina
Fri 6rd Mar - Russia, Moscow - Club Tochka
ULTRA BEATDOWN JAPAN TOUR 2009
Mar 26th Fukuoka, Japan - Zepp
Mar 27th Osaka, Japan - Zepp
Mar 30th Tokyo, Japan - Zepp
Mar 31st Nagoya, Japan - Zepp
Apr 2nd Sendai, Japan - Zepp
Apr 4th Sapporo, Japan - Zepp
Dischography of Dragon Force's album
ULTRA BEATDOWN - BIOGRAPHY
Every year there are albums eagerly anticipated, be it from hot young names, established legends or – and this is usually the most exciting of all the categories – those bands you know are on the verge of greatness.
As DragonForce, the multi-national talent based in London – prepare to release their fourth album, nobody who understands the world of metal can have any doubt that ‘Ultra Beatdown’ (as the record is to be called) is most certainly being awaited with a real sense that we are about to witness a band going from being ‘potential international stars’ to becoming a ‘major global phenomenon’.
“Every album is different for us,” says guitarist Herman Li. “We never want to repeat what’s done before. And that makes each record we do that little bit more difficult. On this one, we rejected so much because it was going over old ground. We’d heard it before. We’re not a band who get stuck with a formula and are just content to repeat the same thing over and over again.”
‘Ultra Beatdown’ has three hard acts to follow. If ‘Valley Of The Damned’ established the sextet’s fearless credentials in 2003, then ‘Sonic Firestorm’ (’04) and ‘Inhuman Rampage’ (’06) each took them further forward. In fact, the last named has now sold in excess of 300,000 copies in America alone (and half a million worldwide), spawning the Gold single ‘Through The Fire And Flames’, thereby giving DragonForce the cachet of being the most successful new British metal act in America for two decades!
However, the ‘Force are not a band to feel the impact of any undue outside influences. All the demands come from within the tight-knit group of Li, fellow guitarist Sam Totman, vocalist ZP Theart, keyboard player Vadim Pruzhanov, bassist Frederic Leclercq and drummer Dave Mackintosh. Like all the great bands you care to mention, the pressure is internal and eternal, always pushing the band to improve and develop.
“You’ll find, for instance, that on this album we’ve been more varied in our pacing of songs. I’m not suggesting for a moment that we’ve really slowed right down. But, whereas in the past, you could say that things were fast all the way through, this time we made a real effort to be a little less frenetic throughout. I believe the approach works extremely well.”
One thing DragonForce have always been good at delivering are songs with a tremendous melodic depth. Whatever other qualities they have – and there are plenty – it’s this trait that long ago marked them out as a class apart from many of their peers. Name any giant of the genre over the past 40 years or so, and they’ve always possessed the ability to compose a cunning tune or several. The same applies here.
“There have been people who believe all we do is play fast. But to me, the most important part of any song is the melody. We’re proud of what we’ve achieved so far, but also feel this time it’s on a new level. Merely being fast isn’t enough to get you noticed and respected.”
The process in creating the new album began an amazing 18 months ago, when the first ideas were thought through. Studio work began to get into the groove last October, with a brief break at the end of the year for The Black Crusade European Tour.
“We didn’t ever feel as if there was a time scale involved here. We just did whatever it took to make this the best album of our career to date. The way we’ve always done things means that what is written and demoed in the first place is rarely what we end up with in the studio. Our songs develop, evolve and change as we go along. It makes the studio an interesting place, because we’ll come up with new ideas all the time.
“Lyrically, we’re taking a look at life and what goes on in the world, but doing this in the usual DragonForce way!”
The new record is once again produced by the tried and trusted team of Li, Totman and Karl Groom of British prog metalheads Threshold, basing themselves at both Li’s studio and Thin Ice Studios in Surrey, where Groom does much of his work. The two guitarists have been involved with all production since the first album along with Groom since their first demo.
“Our attitude is: why change what works for us? No producer could know better than the team of Herman Li, Sam Totman and Karl Groom what this band should sound like. If we had someone else as producer, then all we’d do is argue constantly, and then ignore them anyway! So, it would be a waste of everyone’s time.
“The day we bring in another producer will be the day that we have no ideas at all, and need help…actually, when that day arrives we’d split up! What would be point of continuing when we’re past our peak?”
‘Ultra Beatdown’ is the album to take DragonForce to a new height. It’s not merely the culmination of a decade crafting and finessing a sound that has made them instantly recognizable across the world. It’s not even state-of-the-art for metal, nor just a gantlet being thrown down for everyone else. This is more than that. It’s DragonForce beating a difficult, yet ultimately satisfying, path. Experimenting, taking risks, being bold – precisely what you’d expect any masters of their art.
“Is this the peak of our career? I don’t think so,” insists Li. “But it’s a further step forward. So far, there are six people who like ‘Ultra Beatdown’ – the members of DragonForce. And if we’re happy, then that’s all we can do. Hey, I can actually listen to what we’ve done here, and enjoy the experience!”
The rest of the world will follow. Just watch!
Malcolm Dome,
London, June 2008
Mungkin sebagian dari kita tidak banyak yang tahu, bahwa kota solo penuh dengan hawa cadas. Sebagian orang bahkan warga Solo sendiripun hanya mengenal solo sebagai ”The World Heritages Cities” atau kota warisan budaya dunia. Dengan sloganya “spirit of java” solo memperkenalkan dirinya kepada dunia. Tanpa disadari, Solo sebenarnya telah bermanifestasi menjadi kota yang kental dengan nuansa cadas yang “membakar” kota Solo.
Berawal dari tingginya apresiasi masyarakat solo terhadap musik rock, membuahkan lahirnya komunitas-komunitas fans band rock, antara lain; Slankers, Kamtis Solo, Siders Solo, bahkan komunitas fans band local sendiri, yaitu pasukan babi Neraka. Oleh karena itu mulai menjamurlah band-band rock di kota solo. Terutama beraliran Metal dan subgenrenya.Penonton selalu memenuhi venue apabila diadakan even.
Spenjang tahun 2008 saja banyak sekali even-even rock. Mulai dari yang berskala kecil sampai besar. Even berskala kecil antara lain ; Solo Beatdown, Unite and take over, Even di megaland, even di waduk GM, even di terminal Sukoharjo, even di ISI, Dan masih banyak yang lainya. Sedangkan even skala besar, seprti; Rock in Solo yang menjadi acara tahunan di Solo, World tournya Caliban,band asal Jerman yang menjadi pemusik luar kedua setelah dewa gitar dunia Yngwy J.Malmsteen hadir tahun 1988, Lalu masih ada konser band rock ternama di Indonesia sperti Koil, Seringai, Roxx, Netral, Endang Soekamti, S.I.D, Navicula, Slank, Boomerang, Rif, Burgerkill, dan masiih banyak yang lainya. Bahkan pensi-pensi sekolah di solopun mulai mementaskan band-band rock.
Salah satu band lokal solo yang aktif memotori even rock di kota solo adalah Down For Life. Lewat event organizing and promotoring yang di buat oleh salah satu personilnya ini acapkali mengadakan even-even rock.Bahkan Down For Life masuk dalam kategori band berbahaya menurut website http// apokalip.com. Lalu adalagi Lord symphony, band heavy speed metal ini sudah terkenal di Jakarta. Band ini pernah menjadi opening act dari salah satu “god of heavy metal dunia” yaiitu Hellowen saat Hellish Rock tour bersama dengan Burgerkill dan straight out. Dan masih banyak band rock di kota bengawan ini.
Tapi even-even rock, sering kali dinodai oleh tindak anakis penonton yang kadang menimbulkan korban. Bahkan scene rock di Solo telah kehilangan salah satu venue kebanggaanya, Manahan. Memang jika kita tahu, musik rock tidaklah jauh dari yang tiga hal yaitu; sex, violence, and drugs. Tapi tidakah kita mampu merubah hal-hal tersebut?. Saya bias menjawab “yes, we can”. Jadi agar band rock solo tidak bernasib sama seperi band-band bandung yang telah dicekal pemkot, semenjak peristiwa di gedung AACC, Bandung. Oleh karena saya menyarankan kepada penonton untuk mencegah hal tersebut terulang
1. Bila kita tersenggol janganlah kita marah
2. Bila kita menyenggol, cepatlah meminta maaf
3. Jangan suka mengganggu penonton yang pasif
4. Bila ada penonton yang jatuh, bantulah dia berdiri
Agen sosialisasi musik rock di solo sangatlah banyak, antara lain lewat radio. Radio solo sekarang ini mulai aktif menyiarkan lagu-lagu rock. Bahkan ada yang memberikan waktu khusus untuk musik rock. Seperti; Solo Radio, tiap kamis malam pukul 21.00 dan juga star fm,yaitu gekagat hitam tiap hari minggu pukul 20.00-22.00
Meskiipun begitu. Gema musik rock belum bergaung merata di seluruh kota solo. Tapi saya berharap agar musik rock dalam perkembanganya dapat merata di semua kalangan.Oleh karena itu kita harus tetap uarakan ”keep on Metal Spirits”
Wassalamu’alaikum wr.wb
Write by Luqman hakim
PENURUNAN KUALITAS MUSIK INDONESIA
Pada awal 90-an kita sering mendengarkan musik, dimana musik tersebut baik rock, pop,dangdut di Indonesiaangatlah dipengaruhi nuansa melayu sentris.Kita dapat melihat pemusik seperti ; Nikke ardilla(pop), Power Metal(rock), Rhoma irama. Bahkan “mabahnya” heavy metal(power metal) di Indonesia pun, dalam lagu-lagunya banyak yang bernuansa melayu,tapi menurut saya mereka maih tetap keren,di banding melayu masa kini.
Tahun 80-an awal, terbentuklah sebuah band yang benafaskan ”blues rock” yaitu Slank. Saat itu band slank belumlah terkenal seprti sekarang ini. Bahkan mereka sering mengikuti festival rocknya Log zhelebour. Dan yang ironis, mereka tidak pernah berhasil menjuarainya sekalipun, tempat ke-IV pun tak pernah mereka dapatkan. Tapi kini lihat, mereka dapat dikatakan sebagai band rock terbesar di Indonesia.
Tonggak perubahan dari melayu sentris ke nuansa modern seperti Blues, british atau gaya western lain pun, tidak luput dari sumbangsih Slank. Slank melalui karya karya mereka berusaha memodernisasikan musik Indonesia. Agar pemusik lain terinfluence, sehingga musik Indonesia dapat lebih modern. Dapat ditebak, mulai munculah band-band baru yang lebih bernuansa modern,seperti; Sheila on 7, Padi, Boomerang, Dewa 19, dll. Mereka membawakan musik yang sama sekali baru dan terlepas dari pengaruh masa lalu. Coba kalian bandingkan musik era 90-an awal dengan akhir. Pastilah sangat berbeda.
Perkembangan musik indonesia dari segala scene mulai menunjukan trend positive. Masing-masing dari mereka mampu bertahan. Dan pada jaman itu tidak ada tempat bagi plagiat-plagiat di tengga musik atas. Semua karya orisinil dan berbeda satu sama lain.Mereka benar benar mampu menunjukan skill kemampuan mereka dalam bermusik. Dan juga pintar membaca situasi pasar.
Lalu dimulailah trend penurunan musik. Tapi penurunan tersebut hanya terjadi pada scene musik pop dan juga dangdut.Hawa aroma melayu-sentris mulai terasa kembali. Dimotori oleh band yang bernama ka..tittttt(sensor -red.)band. Band ini mendapat banyak cemooh dan kritikan pedas. Namun anehnya malah pengaru band ini dengan cepat mewabah bagai virus flu burung. Terutama di daerah pinggiran dan juga perdesaan. Ironis memang, disaat kehiidupan ekonomi menurun, selera musik pun ikut mengalami trend penurunan.
Lalu munculah plagiat-plagiat dari band tersebut dan sejenisnya di Indonesia. Padahal, apa yang dapat mereka andalkan dari musik mereka. Jika kita tahu, aliran pop lemah dalam musiknya, tidak berpower, dan berspeed. Jadi,jika pop itu lemah mereka seharusnya membuat lirik yang menjadi keunggulan pop dengan bagus dan tidak sal-asalan. Sebab band-band itu selama ini selalu mengulang tema-tema yang sama, seperti; perselingkuhan, putus cinta, jatuh cinta,berebut pacar, dll.Padahal ada banyak pilihan tema lirik yang lebih baik lagi. Mungkin pemusik barat pun akan tertawa bila mengetahui hal tersebut.Kita seperti kembali ke masa lalu.
Tak jauh beda dengan scene dangdut,saat ini mereka kerap menyanyikan lagu yang tidak orisinil. Mereka memilih lagu dari aliran lain untuk diaransemen menjadii lagu
dangdut. Seakan-akan daya cipta mereka sudah berhenti atau jalan di tempat saja. Dan jarang ada yang produkitif.
Tapi, semua hal tersebut sangatlah bertolak belakang bila dibandingkan dengan scene musik lain macam rock. Musik rock teru mengalami kemajuan dan berkembang pesat di kota-kota yang memang sudah terkenal cadas seperti; Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Surabaya hingga Malang. Banyak metalhead dan headbanger selalu setia pada musik rock. Musik rock, selain itu lebih menjual di pasaran luar negeri.
Itulah keadaan pasar musik negara kita saat ini. Semoga dapat segera berubah ke arah yang lebih baik lagi. Bahkan ketika ada kasus tentang perebutan keabsahan pemilik lagu berjudul jauh atau tinggal kengan saya hanya tertawa saja. Lagu seperti itu koq di perebutkan.. Maka pintar-pintarlah kalian dalam memilih musik. Jangan sampai tertular penyakit pembodohan.
Write by Luqman Hakim
Guitar World 100 Greatest Metal Guitarists Of All Time
01. Tony Iommi (BLACK SABBATH)
02. Kirk Hammett & James Hetfield (METALLICA)
03. Angus & Malcolm Young (AC/DC)
04. Randy Rhoads (OZZY OSBOURNE)
05. Eddie Van Halen (VAN HALEN)
06. Jimmy Page (LED ZEPPELIN)
07. Dimebag Darrell (PANTERA, DAMAGEPLAN)
08. Zakk Wylde (OZZY OSBOURNE, BLACK LABEL SOCIETY)
09. Adam Jones (TOOL)
10. Kerry King & Jeff Hanneman (SLAYER)
11. Dave Murray & Adrian Smith (IRON MAIDEN)
12. Jimi Hendrix
13. Glen Tipton & K.K. Downing (JUDAS PRIEST)
14. Ace Frehley & Paul Stanley (KISS)
15. Slash (GUNS N' ROSES)
16. Ritchie Blackmore (DEEP PURPLE, RAINBOW)
17. Yngwie Malmsteen
18. Joe Perry & Brad Whitford (AEROSMITH)
19. Dave Mustaine & Marty Friedman (MEGADETH)
20. Chuck Schuldiner (DEATH)
21. Brian May (QUEEN)
22. Michael Schenker (MSG, UFO)
23. Nigel Tufnel (SPINAL TAP)
24. Jeff Beck
25. Tom Morello (RAGE AGAINST THE MACHINE)
26. Head & Munky (KORN)
27. John Petrucci (DREAM THEATER)
28. Kim Thayil (SOUNDGARDEN)
29. Vivian Campbell (DEF LEPPARD)
30. Daron Malakian (SYSTEM OF A DOWN)
31. Scott Ian (ANTHRAX)
32. Tom G. Warrior (CELTIC FROST)
33. Chris Degarmo & Michael Wilton (QUEENSRŸCHE)
34. C.C. Deville
35. Marten Hagström & Fredrik Thorndendal (MESHUGGAH)
36. Alex Lifeson (RUSH)
37. Paul Gilbert (MR. BIG, RACER X)
38. Jerry Cantrell (ALICE IN CHAINS)
39. Mantas (VENOM)
40. Jason Becker (DAVE LEE ROTH)
41. Phil Collen & Steve Clarke (DEF LEPPARD)
42. Mikael Åkerfeldt & Peter Lindgren (OPETH)
43. Fast Eddie Clarke (MOTÖRHEAD)
44. Nuno Bettencourt (EXTREME)
45. Warren DeMartini (RATT)
46. Mick Mars (MÖTLEY CRÜE)
47. George Lynch (DOKKEN)
48. Ted Nugent
49. Jake E. Lee (OZZY OSBOURNE, BADLANDS)
50. Rudolf Schenker & Uli John Roth (SCORPIONS)
51. Oystein "Euronymous" Aarseth (MAYHEM)
52. Scott Gorham & Brian Robertson (THIN LIZZY)
53. Steve Vai (DAVE LEE ROTH)
54. Reb Beach (WINGER, DOKKEN)
55. Trey Azagthoth (MORBID ANGEL)
56. John Sykes (THIN LIZZY, BLUE MURDER)
57. Hank Shermann & Michael Denner (MERCYFUL FATE)
58. Richie Sambora (BON JOVI)
59. Jon Donais & Matt Backhand (SHADOWS FALL)
60. Stephen Carpenter (DEFTONES)
61. Alex Skolnick & Eric Peterson (TESTAMENT)
62. Brian Tatler (DIAMOND HEAD)
63. John Christ (DANZIG)
64. Scott "Wino" Weinrich (THE OBSESSED)
65. Pepper Keenan & Woody Weatherman (C.O.C.)
66. Tommy Victor (PRONG)
67. Leslie West (MOUNTAIN)
68. Vernon Reid (LIVING COLOUR)
69. Glen Buxton & Michael Bruce (ALICE COOPER)
70. Bjorn Gelotte & Jesper Stromblad (IN FLAMES)
71. Jim Matheos (FATES WARNING)
72. Gary Holt & Rick Hunolt (EXODUS)
73. Donald Buck Dharma Roeser (BLUE ÖYSTER CULT)
74. Michael Amott (ARCH ENEMY)
75. Robert Fripp (KING CRIMSON)
76. Andre Olbrich (BLIND GUARDIAN)
77. Joe Satriani
78. Frank Hannon & Tommy Skeoch (TESLA)
79. Ty Tabor (KING'S X)
80. Mark Morton & Will Adler (LAMB OF GOD)
81. Dino Cazares (FEAR FACTORY)
82. Pete Townshend (THE WHO)
83. Jon Schaffer (ICED EARTH)
84. Timo Tolkki (STRATOVARIUS)
85. Neil Young
86. Abbath Doom Occulta (IMMORTAL)
87. Kai Hansen (GAMMA RAY)
88. Uffe Cederlund & Alex Hellid (ENTOMBED)
89. Leigh Stephens (BLUE CHEER)
90. Jim Martin (FAITH NO MORE)
91. Michael Romeo (SYMPHONY X)
92. Bill Steer (CARCASS)
93. Piggy (VOIVOD)
94. Tony Bourge (BUDGIE)
95. Sammy Hagar (VAN HALEN)
96. Alexi Laiho (CHILDREN OF BODOM)
97. Akira Takasaki (LOUDNESS)
98. Michael Angelo
99. John Kay & Michael Monarh (STEPPENWOLF)
100. Nick Bowcott (GRIM REAPER)