Chinese Democracy - now online!

8:57 AM / Posted by metallic sucker and moslem militan / comments (0)

Guns N' Roses are now streaming their new album Chinese Democracy in full online.

The album can be heard on the band's MySpace profile HERE.

The album will be released in the UK on November 24 and in the US on Sunday November 23.

See this week's Kerrang! magazine for a cover feature about Guns N' Roses.

The tracklisting for Chinese Democracy is as follows:

1: Chinese Democracy
2: Shacklers Revenge
3: Better
4: Street Of Dreams
5: If The World
6: There Was A Time
7: Catcher In The Rye
8: Scraped
9: Riad N The Bedouins
10: Sorry
11: I.R.S.
12: Madagascar
13: This I Love
14: Prostitute

Labels:

AS I LAY DYING ; An Ocean Between Us Tour

8:53 AM / Posted by metallic sucker and moslem militan / comments (0)

Setelah sukses menyelenggarakan konser Helloween, Solucite di tahun 2008 ini akan kembali meramaikan pertunjukan musik di Indonesia dengan sajian konser As I Lay Dying "An Ocean Beetween Us Tour" di Tennis Indoor Senayan Jakarta pada tanggal 27 November 2008. Pertunjukan ini didukung pula oleh band fenomenal asal Bandung yaitu Burgerkill sebagai pembuka. Tentunya ini akan menjadi sebuah paket pengalaman cadas yang tidak bisa dilewatkan begitu saja...

Untuk presale tiket seharga Rp.250.000,- sampai dengan 7 November 2008 dan harga normal Rp.275.000,- di sejumlah tiket box di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bandung dan Surabaya. Untuk pembelian tiket secara langsung di kantor Solucite, Jl. KH Ahmad Dahlan No.29 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akan langsung mendapatkan bonus CD rilisan dari Solucite Records dan merchandise lainnya secara gratis.

Bukan itu saja, Solucite juga telah melakukan penawaran menarik, yaitu bagi setiap pembeli tiket konser As I Lay Dying [hanya yang membeli di Solucite Headquarter secara presale atau normal price] dapat membeli tiket konser Lamb of God yang akan diselenggarakan pada tanggal 9 Maret 2009 mendatang dengan harga spesial. Jadi jangan dibuang tiketnya, karena tiket tersebut menjadi bukti untuk pengajuan harga spesial pembelian tiket konser Lamb of God. Pada saat acara As I Lay Dying tanggal 27 November nanti, Solucite juga akan membuka booth khusus untuk pembelian tiket presale konser Lamb of God.

As I Lay Dying adalah band metalcore asal San Diego California. Band yang memiliki gaya bermusik yang cukup unik ini menggabungkan musik metal yang berbasis pada riff-riff melodius ala Gothenburg Sound, seperti In Flames dan At The Gates dengan komposisi ringan ala musik punk sehingga mudah dicerna dan disimak bahkan oleh para pendengar musik rock/metal yang terhitung baru mendengarkan lagu mereka. Nama band ini berasal dari novel William Faulkner yang dicetak sekitar tahun 1930-an berjudul As I Lay Dying, yang menceritakan kehidupan keluarga petani Amerika yang religius. Band ini kini digawangi oleh Tim Lambesis,sebagai vokalis,dan leader dari band ini, kemudian drummer muda enerjik dan sangat berbakat Jordan Mancino. Dual shredder yang memperkuat dari sisi gitar, Nick Hipa dan Phil Sgrosso. Nick Hipa merupakan gitaris yang cukup menonjol dengan karakter sound yang berbeda dengan musik metalcore kebanyakan, karena boleh dibilang terlalu 'melodius' dan kurang tebal distorsinya. Namun hal itu justru menambah karakter dan pattern lead guitar dari Nick, sementara karakter sound distorsi yang tebal dilapis oleh Phil yang memang memiliki background lebih kuat dibandingkan Nick. Sementara Josh Gilbert membantu Tim Lambesis sebagai clean vocalist dan juga bertanggung jawab sebagai pencabik bas.

As I Lay Dying merupakan band yang cukup terkenal di scene metal dunia karena meraih beberapa prestasi. Salah satu yang cukup fenomenal adalah dengan dinominasikannya lagu Nothing Left dalam ajang Grammy Awards tahun 2008. Di tahun ini juga mereka dianugerahi penghargaan San Diego Music Award. Di tahun sebelumnya, As I Lay Dying sempat memenangkan penghargaan The Ultimate Metal God dari saluran TV musik terkenal di dunia, MTV2 .

Band ini seringkali dicap sebagai band yang cukup religius, karena lirik-lirik positifnya yang tergolong berbeda dengan band lain. Bila band lain banyak mengumbar kekerasan, kegelapan, atau realita sosial - band ini justru mengangkat tema religius dan unsure spiritual positif dalam lagu-lagu mereka. Hal ini sempat membuat mereka digelari band metal spiritual atau white metal. Itu tercermin lewat rilisan mereka mulai dari Beneath The Encoding of Ashes yang dirilis di tahun 2001, sampai pada album Shadows are Security yang dirilis tahun 2005.

Tim Lambesis seperti vokalis dan penulis lirik mulai bereksperimen dengan lirik yang bertema sosial pada album terakhir mereka, An Ocean Between Us, yang dirilis tahun 2007 lalu. Itu justru menambah greget dan karakter dari band ini, lirik yang tidak preachy tapi mengajak ke sisi positif tergambar di sini. Seiring dengan sambutan positif dari berbagai kritikus musik metal di seluruh dunia, band ini juga beberapa kali tampil dalam sampler majalah Metal Hammer sepanjang tahun 2007. Tercatat sedikitnya ada dua edisi Metal Hammer yang memuat band ini. Bahkan album An Ocean Between Us berhasil menduduki peringkat ke-delapan pada Billboard 200 dan menjadi nomor satu di bagian rock chart. Tentu sebuah prestasi yang cukup membanggakan bagi sebuah band yang terhitung masih baru di blantika musik rock/metal dunia. Tak salah bila Adam Dukiewicz, gitaris dari Killswitch Engage yang bisa dikatakan pelopor dari genre metalcore ini, ikut memproduseri album An Ocean Between Us. Tak lupa juga Andy Sneap sang maestro 'modern sound of metal' juga turut bertugas mengemas sound di album ini sehingga tampil lebih baik dibanding album sebelumnya.

Pada tahun 2007, As I Lay Dying mulai merekam album baru dengan bantuan Colin Richardson di sisi mixing dan Andy Sneap sebagai pemerhati kualitas sound gitar. Dua nama yang menjadi jaminan kualitas sound yang ciamik dari sebuah album band metal saat ini. Album itu diproduseri oleh Adam Dutkiewicz yang menjalin pertemanan dengan Tim dkk selama promo tour Shadows of Security. Tercatat penjualan pada minggu pertama album ini menurut Ac Nielsen Soundscan sudah mencapai angka 39.000 kopi.

Berbagai review dan kritik positif diluncurkan berbagai situs online dan majalah metal dunia seiring dengan dirilisnya An Ocean Between Us. Situs About.com meberikan 3.5/5, Allmusic.com memberikan 4/5 bintang, bahkan Cross Rhytms memberikan rating sempurna 10/10 untuk album ini. Kebanyakan review dan kritik tersebut menjurus pada kualitas sound dan komposisi lagu yang tergarap cukup baik di album tersebut. Tentunya anda pasti penasaran bila lagu-lagu seperti Nothing Left, Within Destruction, Forsaken, atau An Ocean Between Us dibawakan langsung di depan mata kita?! Maka nantikan show As I Lay Dying nanti di Tennis Indoor Senayan tanggal 27 November 2008!...

Labels:

UNDERGROUND KITA BERBEDA

8:51 AM / Posted by metallic sucker and moslem militan / comments (0)

Jika dirunut pada sejarah masuknya musik rock ke Indonesia, khususnya kota Bandung, diawali sejak tahun 70-an. Musik rock yang masuk ke Indonesia adalah musik rock yang berasal dari benua Amerika dan Eropa. Pada tahun 50-60an tatanan nilai dan budaya benua Eropa dan Amerika masih sangat konservatif. Nilai-nilai budaya baru yang diciptakan oleh para generasi muda pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dianggap sebagai ide-ide yang subversif. Pada tahun 50-an para seniman di Prancis dan Inggris biasa mengekspresikan karya-karya mereka di subway atau stasiun kereta api bawah tanah. Karena mereka tidak pernah diberi akses oleh pemerintah pada fasilitas atau gedung-gedung kesenian pada saat itu. Karena dinilai karya-karya mereka mengandung muatan-muatan pemberontakan pada pemerintahan dan dianggap menghujat nilai-nilai konservatif gereja pada saat itu. Utamanya pada saat itu di benua Eropa telah mengalami puncak kejayaan dari sebuah revolusi di berbagai bidang kesenian. Sehingga cenderung menolak hal-hal baru karena dianggap bisa merusak tatanan kemapanan yang sudah terbentuk. Sementara kaum mudanya merasakan sebuah kondisi stagnasi dan kebosanan. Setiap malam para seniman-seniman itu berkumpul mengekspresikan berbagai macam karya 'avant garde' mereka. Dari mulai pentas musik, teater, seni rupa, puisi, performance art, hingga karya instalasi yang rumit. Mereka saling berekspresi dan saling mengapresiasi satu sama lain. Karya-karya yang dipertunjukan pada saat itu memang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Karya yang diciptakan pada saat itu menjadi semacam 'basic' bagi perkembangan semua karya seni yang ada sekarang. Dari sinilah istilah 'underground' untuk pertama kalinya muncul.

'Underground' Era Revolusi Industri

Di tahun yang sama juga benua Eropa mengalami revolusi industri. Ketika sektor-sektor industri di Eropa melakukan transformasi teknologi yang drastis. Demi efesiensi dan mempercepat kapasitas produksi pasca berakhirnya perang dunia kedua pabrik-pabrik di Eropa mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin. Hal ini berdampak pada banyaknya pengangguran dan menimbulkan masalah sosial. Di Inggris lahirlah kelompok-kelompok buruh yang terkena PHK mengorganisir diri ke dalam kelompok berbagai organisasi 'working class'. Dengan dandanan khas rambut plontos t-shirt putih dan bersepatu boots dr.Martens, setiap malam mereka menggelar pentas-pentas musik di subway serta melakukan 'squat' atau reclaiming terhadap gedung-gedung kosong bergabung dengan para imigran dari Jamaika, Maroko, dan Afrika. Lirik yang disampaikan adalah lirik protes terhadap kondisi sosial dan kesetiakawanan. Dari sinilah muncul proses eksplorasi musik hingga terciptalah musik heavy yang dipelopori oleh kelahiran band Black Sabbath. Musik yang kelam dan lirik yang mengekplorasi sisi gelap manusia sebagai penyikapan terhadap kondisi sosial pada saat itu. Kelompok ini terbagi lagi menjadi beberapa ideologi. Ada yang cenderung fasis dan ultra nasionalis dan pastinya jadi rasis. Ada juga yang berideologi kesetaraan dan anarkis. Dari sinilah lahir budaya 'punk' dengan segala macam aktifitas seni dan gerakan politisnya.

Puncaknya adalah ketika terjadi peristiwa Paris '68 di Prancis. Pada saat itu mahasiswa sebagai bagian dari 'middle class' atau kaum intelektual melebur bersama para kaum 'underground' dan kaum miskin kota dalam hal ini korban PHK akibat dampak dari revolusi industri melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut perbaikan ekonomi. Selama berminggu-minggu mereka membuat barikade di jalan-jalan kota Paris dan melakukan aksi mogok secara nasional. Hingga akhirnya pemerintah Prancis melakukan reformasi total di segala bidang. Salah satu alumnus peristiwa Paris '68 adalah Malcolm Mc Laren yang jadi manajer band punk rock kontroversial sepanjang masa, Sex Pistols.

'Underground' Era Flower Generation

Kondisi di Amerika kurang lebih sama. Di Amerika pada tahun 50-an masih menganut sistem politik apartheid dan perbudakan. Masyarakat sosial Amerika pada saat itu terbagi menjadi tiga kelas sosial utama. Kelas borjuis yaitu kaum pengusaha, birokrat dan agamawan yang cenderung rasis dan menjunjung tinggi semangat 'white supremacy'. Kaum tehnokrat yang terdiri kaum intelektual dan mahasiswa. Kaum buruh yang terdiri dari budak-budak kulit hitam. Pembagian strata sosial ini membawa dampak pada pola berkesenian. Pada saat itu para budak kulit hitam yang kebanyakan berasal dari benua afrika oleh hukum yang berlaku pada saat itu mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Gaji yang tidak sesuai dengan porsi kerja dan tindakan diskriminatif di segala bidang. Semua gerak langkah mereka dibatasi hingga menimbulkan rasa frustasi yang begitu mendalam.

Satu-satunya saluran ekspresi mereka adalah lewat media musik. Mereka biasanya dipisahkan dari lingkungan kulit putih dengan cara kolonisasi. Dibuatkan area perkampungan yang kumuh atau dikenal dengan istilah 'ghetto' dan sengaja dibuat miskin secara sistematis hingga menimbulkan kerawanan sosial. Setiap malam sehabis lelah bekerja mereka biasanya berkumpul dan memainkan musik. Musik yang diciptakan adalah musik yang sifatnya sangat personal. Musik yang menjadi ekspresi pribadi dalam mengekspresikan segala kesumpekan dalam diri. Lahirlah kemudian jazz dan blues. Musik yang cenderung instrumental. Karena pada saat itu membuat lirik yang bernada protes sosial apalagi dilakukan oleh kulit hitam merupakan pelanggaran berat. Mereka membentuk komunitas dan menggelar konser-konser sederhana di bar-bar kulit hitam. Saling berekspresi dan mengapresiasi sambil meneriakan protes-protes lewat nada-nada sendu dan bernuansa kelam. Kalaupun memakai lirik maka pengucapannya dilakukan dengan cepat, bergumam dan menggunakan 'bahasa kode' yang hanya dimengerti oleh komunitas itu sendiri. Musik yang pada saat itu sangat diharamkan untuk didengar apalagi dimainkan oleh kaum kulit putih.

Dari sinilah muncul sikap DIY [do-it-yourself]. Para musisi kulit hitam ini membuat perusahaan rekaman 'motown records' yang khusus memproduksi artis-artis kulit hitam dan mendistribusikannya ke setiap koloni-koloni yang tersebar di seantero benua Amerika. Mereka membuat jaringan komunikasi dan media komunitas kulit hitam. Mulai mengorganisir diri dalam gerakan yang lebih ke arah politis. Salah satunya organisasi 'black panther'. Lahirlah pionir pejuang-pejuang kemanusiaan yang mengusung isu kesetaraan hak, diantaranya Malcolm X dan Martin Luther King.

Hingga suatu saat Elvis Presley mendobrak budaya konservatif tersebut. Diam-diam dia mendatangi bar-bar kulit hitam yang menampilkan musik blues dan jazz. Dia terinspirasi dari aliran musik tersebut hingga digabungkan dengan musik country. Lahirlah rock & roll. Musik yang pada saat itu mengalami penolakan keras dari kaum konservatif dan kalangan gereja. Rock & roll pada jaman Elvis disebut sebagai 'musik pemuja setan'. Karena iramanya dianggap mendorong anak muda untuk berjoget seronok dan membangkang pada orangtua.

Ketika Amerika mengalami krisis ekonomi berkepanjangan akibat perang dunia kedua dan terlibat dalam perang Vietnam, beberapa kalangan seniman 'underground', kalangan akademisi dan para veteran perang menggelar aksi protes anti perang Vietnam serta menuntut perbaikan kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka menggelar panggung-panggung festival musik secara besar-besaran. Contohnya adalah Woodstock pada tahun 1969. Panggung tersebut diisi oleh artis-artis multi-etnis. Meneriakan semangat yang sama, 'make peace not war'. Dari sinilah cikal bakal dari kaum hippies. Kaum 'flower generation' yang sudah bosan dengan segala kebijakan konservatif yang mereka nilai tidak sejalan dengan semangat perubahan jaman. Namun kembali gerakan ini tidak berlangsung lama dikarenakan terjadi proses komodifikasi dan eksploitasi besar-besaran oleh para pelaku industri mainstream. Terutama industri yang bergerak di bidang hiburan dan fashion. Pada akhirnya hanya dua elemen nilai itulah yang 'dijual' dan sampai ke khalayak. Band-band heavy metal pada era itu sudah tidak dianggap 'underground' lagi. Beberapa pelaku sub-kultur akhirnya menolak cara-cara tersebut dan lebih memilih kembali pada jalur 'underground' serta mengembangkan sistem mereka sendiri. Pada era 70-an para pelaku komunitas sub-kultur ini telah mampu menciptakan dan mengembangkan berbagai penyikapan alternative untuk melawan arus mainstream. Lahirnya industri indie label yang mengakomodir semangat independensi dan berbagai macam media independen adalah salah satu contohnya.

'Underground' Era Orla

Di Indonesia sendiri pada tahun 60-an ketika Soekarno masih berkuasa, perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik pada saat itu. Soekarno yang berkuasa mengambil poros Jakarta-Beijing-Moskow sebagai garis politiknya di masa perang dingin. Sehingga hal-hal yang sifatnya berbau Amerika dianggap sebagai sesuatu yang kontra revolusioner dan bentuk imperialisme budaya barat. Sehingga musik rock & roll pada saat itu dianggap 'menyesatkan' dan 'kebarat-baratan' serta dilarang dikonsumsi oleh anak muda Indonesia. Terlepas dari segala muatannya yang membawa pada semangat perubahan, segala sesuatu yang datang dari 'barat' pasti dilarang. Semua bentuk kesenian haruslah mengacu pada realisme sosialis dan tidak mengandung muatan borjuisme. Beberapa band seperti Koes Plus mendapatkan perlakuan represif dari aparat keamanan. Beberapa radio yang memutar musik rock & roll ditutup. Petugas keamanan rajin melakukan razia-razia ke tempat keramaian anak muda. Apabila kedapatan mengenakan setelan 'barat' pasti ditahan. Apabila ketahuan menggelar acara musik rock & roll atau istilah Soekarno disebut musik 'ngak-ngik-ngok' pasti dibubarkan. Sehingga pada saat itu beberapa musisi lokal menggelar acara-acara musik rock & roll secara sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka bergerilya dari satu rumah ke rumah yang lain menghindari razia petugas keamanan. Dari sinilah awal lahirnya istilah 'underground' di Indonesia.


'Underground' Era Orba

Pasca Soekarno runtuh dimulailah era orde baru. Segala bentuk kesenian yang berasal dari barat mulai masuk dan ikut mempengaruhi perkembangan musik Indonesia. Kebijakan politik yang diambil pada saat itu lebih mengarah kepada politik pencitraan bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan penuh dengan nuansa keterbukaan. Di tahun 1970-an, musik cadas tidak pernah menyebut dirinya sebagai komunitas musik indie, mengingat pada saat itu Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Uriah Heep merupakan komoditas yang dianak-emaskan oleh industri major label di benua Amerika dan Eropa. Begitu pun dengan musik cadas di Indonesia semacam Giant Step, God Bless, Superkid, atau SAS yang lebih suka mengidentifikasikan dirinya sebagai musik 'underground'. Komunitas mereka sangat bangga dengan sebutan itu, mengingat tak semua orang suka akan musik yang kekuatan bunyinya jauh di atas 60 dB atau jauh di atas batas toleransi pendengaran manusia. Ada semacam pola imitasi yang berkembang pada saat itu. Terutama dari jenis musik yang dimainkan dan pola fashion. Sehingga yang terjadi adalah proses imitatif kebudayaan luar yang datang namun tidak mampu menyerap kondisi realitas yang terjadi di kultur lokal. Banyak band Indonesia pada saat itu yang mencoba menjadi Deep Purple, Led Zeppelin atau Black Sabbath. Mereka benar-benar meniru habis-habisan apa yang sedang terjadi di luar sana. Namun yang diadopsi hanya sebatas musikalitas dan fashionnya saja. Sementara isu-isu sosial yang terjadi pada tingkat lokal sama sekali tidak tersentuh. Mereka lebih memilih memproduksi karya dengan lirik yang dinilai 'aman' dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan pemerintah yang totaliter. Fenomena yang dihasilkan pada era ini hanyalah fenomena 'aksi protes' yang diekspresikan dalam aksi panggung yang kontroversial, pemakaian obat bius dan seks bebas.

Walaupun ada beberapa band yang dianggap fenomenal pada masa itu namun hanya sebatas di paparan karya musikalitas dan tidak membawa perubahan secara radikal di tingkat masyarakat. Sementara stigma seniman di mata para akademisi terutama musisi rock adalah urakan, tidak mempunyai intelektualitas tinggi, dan bersikap apolitis. Sehingga muncul kesenjangan persepsi yang sangat lebar antara musisi dan kalangan akademisi pada saat itu. Sehingga beberapa gerakan mahasiswa pada saat itu tidak melibatkan musisi secara aktif. Karena apabila kesadaran untuk melakukan perubahan secara bersama-sama itu dimunculkan pada saat era tersebut sepertinya reformasi tidak perlu menunggu hingga tahun 1998.

Ada semacam kegagapan dalam menyikapi realitas perubahan. Di satu sisi kebebasan untuk menyerap segala informasi dari luar mulai terbuka di sisi yang lain proses pemasungan terhadap kebebasan berekspresi kembali terjadi, bahkan lebih mengerikan dibandingkan era Soekarno. Dan itu secara umum kondisi tersebut diterima begitu saja oleh kalangan musisi pada saat itu. Istilah 'underground' pada saat itu mengalami pergeseran makna. Hanya diartikan sebagai musik 'brang-breng-brong', aksi panggung teatrikal dan kontroversial serta komposisi musik yang rumit dipenuh skill-skill tingkat tinggi. Nilai-nilai perlawanan yang diusung hanya sebatas pada pemberontakan terhadap nilai feodalistik yang sudah mapan namun tidak secara kritis mencari alternatif baru dalam menciptakan nilai pembanding dan nilai tandingan. Baik itu media komunikasi independen maupun sistem ekonomi tandingan yang dikembangkan.

Sehingga yang terjadi adalah gerakan budaya tandingan yang coba disusun pada akhirnya ikut larut dalam dinamika budaya mainstream di mana segala sesuatunya hanya berorientasi pada permintaan pasar [market oriented]. Masa ini berlangsung hingga dekade tahun 80-an.

'Underground' di Ujungberung

Ketika pada tahun akhir 80-an arus globalisasi ikut melanda Indonesia. Investasi asing mulai masuk seiring dengan masuknya IMF ke Indonesia. Dan hal tersebut mulai berdampak bagi perkembangan musik 'underground' di Indonesia, khususnya di kota Bandung. Arus informasi yang kuat telah mendorong beberapa majalah dan rilisan kaset 'underground' dari luar negeri mulai masuk dan banyak dikonsumsi oleh musisi di Bandung. Di Ujungberung sendiri terjadi sebuah fenomena 'shock culture' yang hebat. Ketika lahan-lahan agraris yang produktif disulap oleh para investor asing menjadi lahan industri yang sarat polutan. Kultur bertani dan bercocok tanam yang kental dengan nuansa komunal tiba-tiba secara drastis dirubah menjadi kultur buruh/pekerja yang secara sistematis diarahkan menjadi mahluk asosial. Hal ini jelas berdampak pada perilaku masyarakat secara umum. Muncul konflik-konflik kepentingan lokal dalam menyikapi masalah tersebut. Pemuda sebagai bagian dari sebuah struktur masyarakat menyikapi masalah tersebut dengan mencari saluran-saluran ekspresi yang dinilai bisa mewakili gejolak perasaan mereka. Maka musik metal dijadikan media berekspresi yang dinilai sesuai dengan kondisi keresahan mereka. Musik yang cepat, agresif serta lirik-lirik protes yang sarkastik menjadi pelarian mereka.

Radikalisme Ideologi DIY Ujungberung

Tahun 1989 ada empat band pelopor di Ujungberung yang sudah memainkan komposisi lagu metal ekstrim semacam Napalm Death, Sepultura, Obituary, Carcass dan lain-lain. Mereka adalah Funeral, Necromancy, dan Orthodox. Mereka adalah angkatan pertama di Ujungberung yang mulai menanamkan radikalisme dalam mengekspresikan karya mereka. Ketika trend festival musik pada saat itu masih berkutat di hard rock dan slow rock, mereka dengan berani mengacak-ngacak panggung festival itu dengan komposisi thrash metal dan death metal. Tampilan fashion yang ofensif dan style musik yang bising mereka bergerilya dari satu panggung festival ke festival yang lain mengusung semangat 'kumaha aing'. Keikutsertaan mereka dalam festival tersebut lebih mengarah kepada pembuktian eksistensi dan pernyataan sikap. Mereka mulai memproduksi lagu-lagu sendiri dengan mengangkat isu-isu sosial yang sedang populis pada saat itu.

Dengan kritis mereka mereka menyikapi kultur festival musik sebagai bentuk dari pemasungan kreativitas. Parameter penilaian yang justru pada akhirnya malah mengkerdilkan makna kejujuran dalam berekspresi. Semangat menurut pasar hanya menciptakan bentuk keseragaman dalam karya dan pada akhirnya melahirkan kebosanan. Media-media mainstream pada saat itu hanya menampilkan informasi musik yang itu-itu saja. Pada tahun 1993 mulailah terbentuk beberapa komunitas musik ekstrim di Bandung. Mereka rajin membuka ruang-ruang diskusi menyikapi realitas yang sedang terjadi terutama di tingkat lokal. Mengorganisir diri ke dalam bentuk komunitas yang mempunyai kecintaan dan minat yang sama. Saling bertukar informasi dan membuat workshop media dan eksplorasi teknologi alat musik. Penyikapan konkret mereka buktikan dengan cara membuat media-media informasi tandingan yang isinya lebih kepada pengenalan kultur ini kepada khalayak. Dari situlah maka mereka mulai merambah acara-acara festival musik di kota Bandung. Dari mulai event 'agustusan' hingga pensi-pensi SMA. Pada masa itu sikap diskriminatif terhadap band 'underground' kerap terjadi. Dari mulai aksi teror secara verbal hingga yang sifatnya fisik. Tidak jarang mereka harus menerima hinaan ataupun cibiran dari beberapa orang yang tidak suka atau bahkan yang tidak mengerti sama sekali tentang aliran musik ekstrim. Band-band yang beraliran punk, hardcore, grindcore dan black metal kerap mendapatkan perlakukan diskriminatif dari pihak penyelenggara. Dari mulai jatah waktu tampil yang dikorupsi, perlakuan pihak sound system yang dengan sengaja mengacaukan setting sound, hingga terror fisik dari preman lokal yang merasa tersaingi.

Sikap tersebut terbentuk karena tatanan sosial pada saat itu pada umumnya masih dihinggapi perasaan xenophobia atau selalu merasa khawatir terhadap nilai dan tatanan baru yang muncul. Mereka selalu merasa bahwa hal baru sama dengan ancaman baru. Pada saat itu parameter berekspresi adalah sesuatu yang dapat menembus batasan yang sudah ditetapkan oleh pihak industri musik mainstream. Paradigma musik yang bagus adalah musik yang berorientasi pada kebutuhan pasar yang dapat masuk rating televisi dan menguasai jajaran top-ten radio. Belum terbentuk mental penerimaan yang baik terhadap hal baru yang dapat menambah khazanah keberagaman, utamanya di bidang musik.

Kondisi nyata seperti itulah yang menjadi latar belakang komunitas Ujungberung bercita-cita menggelar acara musik yang konsepnya menampilkan semua jenis musik underground dalam satu panggung. Terinspirasi oleh pagelaran Hullabaloo #1 pada tahun 1994 yang sukses digelar di Gor Saparua yang menampilkan musik underground dengan berbagai macam aliran. Dari mulai hip-hop, grindcore, pop, punk, hingga musik industrial. Komunitas Ujungberung mengadopsi konsep tersebut namun format musik yang disuguhkan lebih kepada sajian musik dengan distorsi tingkat tinggi. Lahirlah acara Bandung Berisik #1 pada tahun 1995 yang melahirkan acara-acara metal legendaris khas ala Ujungberung seperti Bandung Death Fest, Rebellion Fest, dan Rottrevore Death Fest yang rutin digelar secara berkala menampilkan band beraliran metal ekstrim.

Counter Culture

Era 1996 hingga 1997 komunitas musik 'underground' di Bandung mengalami masa perkembangan yang pesat. Konsep kolektivisme dan DIY mulai banyak direalisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan kongkret. Dari mulai membuat perusahaan rekaman berbasiskan indie label lengkap dengan konsep distribusi dan promosinya, pembuatan merchandise band, pembuatan media informasi komunitas berupa fanzine fotokopian, hingga kepada penggarapan event yang mengandalkan semangat kolektivisme. Jenis karya musik yang dihasilkan makin beragam dan cenderung makin agresif. Lirik yang diproduksi mulai banyak menyentuh hal-hal yang sifatnya politis. Banyak lirik pada saat itu yang bercerita tentang nasib buruh, petani, dan kaum miskin kota. Dengan frontal mulai melakukan kritik-kritik terhadap pemerintah yang dinilai gagal mengatasi krisis. Industri musik mainstream pada saat itu sedang dilanda kejenuhan pasar. Paska booming Slank dan Iwan Fals pada saat itu tidak ada lagi fenomena musik yang luar biasa.

Media-media mainstream mulai kehabisan bahan berita hingga akhirnya komunitas 'underground' dengan segala bentuk dinamika pergerakannya menjadi bahan eksploitasi berita. Hampir semua media terutama media cetak mainstream yang ber-target marketing anak muda membahas fenomena pergerakan musik 'underground' terutama yang terjadi di kota Bandung. Hal tersebut jelas berdampak sangat besar pada perkembangan musik 'underground' pada saat itu yang seolah-olah di-setting menjadi trend musik masa kini. Melalui peran media mainstream pula hingga akhirnya booming musik 'underground' ini mewabah hampir di semua kota besar di Indonesia, utamanya di pulau Jawa.

Lahirlah beberapa komunitas musik 'underground' di kota Jakarta, Bali, Surabaya, Malang, Yogya dan Medan. Beberapa pagelaran bertema serupa ramai digelar di kota-kota tersebut dalam skala kecil. Di kota Bandung yang notabene adalah barometer musik 'underground' pada saat itu hampir setiap minggu Gor Saparua menjadi langganan acara-acara musik 'underground' yang diorganisir oleh beberapa komunitas di kota Bandung. Gor Saparua selalu dipenuhi oleh massa 'underground' yang rata-rata berusia belia dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang dan kota-kota lainnya. Terjadilah transformasi informasi dan proses penyerapan kultur. Dari sinilah awal terbentuknya jaringan komunikasi lintas komunitas dalam rangka memperluas jaringan. Beberapa komunitas dari luar kota Bandung dijadikan basis distribusi bagi penyebaran produk dan informasi yang berkaitan dengan aktivitas sub kultur. Bahkan sekarang sudah terbentuk jaringan event yang diorganisir secara kolektif yang rutin menjalin kerjasama penyelenggaraan event 'underground'.

Pada masa itu lahirlah acara-acara musik seperti Bandung Underground yang di organisir oleh komunitas Muda-Mudi Margahayu, Gorong-Gorong Bandung diorganisir oleh komunitas punk P.I., Bandung Minoritas, Campur Aduk dan lain-lain. Namun pada masa itu pula situasi politik dan ekonomi Indonesia mengalami guncangan. Masa peralihan kekuasaan yang diwarnai kisruh pertarungan politik di tingkat elit kekuasaan berdampak besar pada perekonomian. Tragedi krisis moneter yang mengguncang hebat perlahan ikut membawa dampak pada perkembangan musik Underground, khususnya di kota Bandung. Demonstrasi besar-besaran kerap mewarnai jalanan kota Bandung. Daya beli masyarakat secara keseluruhan mulai menurun dikarenakan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Hingga pola konsumsi masyarakat pada saat itu berubah dengan cara mengurangi hal-hal yang dirasa tidak terlalu penting. Acara yang biasanya ramai dipenuhi oleh penonton lambat laun mulai sepi pengunjung. Beberapa organiser yang berasal dari beberapa komunitas independen di Bandung mulai menarik diri untuk membuat event musik 'underground'. Di samping tidak mau mengalami kerugian secara finansial [walaupun pada saat itu dan sampai sekarang tidak pernah mencari keuntungan], juga disebabkan kendala perijinan yang semakin represif terhadap hal-hal yang sifatnya mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Beberapa yang memaksakan diri mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan sepi penonton atau dengan alasan meresahkan dan mengganggu ketertiban secara sepihak dibubarkan oleh aparat keamanan. Beberapa pelaku subkultur 'underground' pada masa itu ikut melebur bersama beberapa organ buruh dan mahasiswa aktif menggelar aksi-aksi demonstrasi menuntut perubahan di segala bidang.

Pada saat sulit tersebut justru komunitas Ujungberung banyak mengalami kemajuan yang signifikan. Banyak band-band baru terbentuk dengan semangat dan idealisme yang tinggi. Beberapa band seperti Jasad, Sacrilegious, Sonic Torment, Burgerkill dan Forgotten bahkan telah mampu memproduksi dan mendistribusikan album perdana mereka secara independen. Pada masa itu komunitas Ujungberung mulai membangun basis ekonomi komunitas sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi komunitas dengan cara membangun distro Rebellion yang khusus menjual produk-produk band Ujungberung dan komunitas musik lain di Bandung. Semua murni dilakukan atas dasar dorongan insting untuk bertahan hidup.

Ekonomi Kreatif

Dinamika pergerakan komunitas 'underground' sebagai bagian dari sebuah sub kultur di Bandung khususnya di Ujungberung ternyata membawa dampak pada sikap kemandirian ekonomi. Semangat kemandirian atau independensi yang mereka usung telah mampu menjadi trigger atau pemicu bagi eksplorasi kreativitas. Tidak hanya di sektor karya musik saja namun telah meluas pada sektor ekonomi. Spirit pemberontakan yang mereka usung telah mampu menyelesaikan beberapa persoalan sosial yang ada khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja. Di komunitas Ujungberung sendiri sejak tahun 2004 hingga sekarang telah terbangun beberapa unit bisnis yang berbasiskan komunitas. Dari mulai usaha sablon, distro, konveksi pakaian, studio rekaman, perusahaan rekaman indiependen, jasa distribusi, studio rekaman, usaha penerbitan, toko buku dan usaha warnet. Semuanya murni dikelola oleh para pelaku komunitas 'underground' Ujungberung dan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan yang sama. Beberapa pelaku komunitas ini terlibat aktif sebagai kru band dan teknisi studio rekording di kota Bandung. Semuanya saling bersinergi dan menciptakan perbaikan ekonomi minimal bagi para individu dan internal komunitas.

Semua bentuk kreatifitas yang diusung oleh para pelaku industri kreatif dalam hal ini adalah pelaku sub kultur telah mampu memberikan 'wajah' pada kota Bandung. Beberapa gelaran event musik yang digelar di Bandung selalu dijadikan tolak ukur dan parameter perkembangan musik bagi kota lain. Bentuk dan perkembangan fesyen dikota Bandung selalu menjadi trendsetter bagi perkembangan industri fesyen di Indonesia.

Pada tahun 2008 hingga 2013, kota Bandung oleh British Council dijadikan proyek percontohan sebagai 'creative city' di kawasan asia pasifik. Sebuah kota yang memang secara budaya berhasil dibangun citranya oleh komunitas kreatif berbasiskan indiependen. Proses pencapaian tersebut dilakukan atas dasar insting untuk bertahan hidup dalam mensikapi situasi. Jiwa yang kritis dan semangat 'pemberontakan' memanfaatkan potensi yang seadanya namun didukung oleh semangat kolektivisme yang tinggi hingga berhasil mengatasi semua hambatan yang ada - meski tanpa daya dukung yang kuat dari pemerintah berupa kebijakan dan fasilitas yang layak untuk mengekspresikan energi kreatif mereka. Mau didukung atau tidak mereka tidak peduli, karena secara sistem mereka telah teruji kemandiriannya.

Tapi kata kunci dari segalanya adalah keteguhan prinsip. Panceg Dina Jalur, tidak gamang menghadapi perubahan. Membaca segala bentuk perubahan sebagai kulit saja bukan sebuah inti. Sehingga ketika harus menyesuaikan diri dengan perubahan tak lantas kehilangan diri tenggelam dalam euphoria di permukaan. Segala pencapaian itu juga harus dikelola dengan sinergi yang positif antara lahan-lahan garapan kreatifitas, sehingga akan terus berkembang dan pada gilirannya memberikan hal positif bagi masyarakat luas.

Labels:

PERSPEKTIF HUKUM TERHADAP PEMBENTUKAN GRUP BAND

8:49 AM / Posted by metallic sucker and moslem militan / comments (0)

Adalah hal menarik bila kita menyimak berita seputar artis musik baik melalui media cetak maupun tayangan infotainment di televisi. Berita yang mengisahkan persengketaan hukum antara artis dan manajernya, artis dengan perusahaan rekaman atau bahkan dengan sesama anggota dalam satu grup band musik yang berujung ke meja hijau. Acap kali luput dari perhatian atau terlupakan oleh suatu grup band yang baru memulai karirnya atau bahkan yang telah lama adalah menentukan aturan main (rule of game) dalam band-nya sendiri. Kondisi ini dapat dipahami dan lazim terjadi karena pada awalnya grup band dibentuk tidak lebih dari sebuah pertemanan dari orang-orang yang memiliki hobi atau tujuan yang sama di bidang musik.

Perjanjian Band

Aturan main (rule of game) itu sebenarnya dapat ditemukan dalam Perjanjian Band (Band Agreement). Bagi sebagian grup band pemula memang agak risih membicarakan sesuatu yang terlalu 'formil' di awal pembentukan band yang baru saja dibentuk. Namun sebenarnya pandangan ini keliru, justru momen itulah yang tepat untuk merumuskan segala hal terkait dengan grup band ke depan. Momen di mana berbagai macam tawaran belum banyak berdatangan seperti tawaran rekaman, tawaran konser, tur, dan sebagainya.

Perjanjian Band (Band Agreement) bukan satu-satunya perjanjian yang terkait dengan grup band. Ada beberapa bentuk perjanjian lain, manakala grup band telah melakukan interaksi dengan pihak lain, seperti perjanjian dengan penulis/pencipta lagu (songwriter contract), manajer (management agreement), Agen (booking agent agreement), perusahaan rekaman (recording contract), publikasi (publishing contract), distributor (distribution contract), perusahaan iklan, event organizer tour (performance contract), atau dengan pihak-pihak ketiga lainnya melalui perjanjian lisensi hak reproduksi (reproduction license) untuk menuliskan lagu dalam bentuk cetak, hak sinkronisasi bila lagu digunakan dalam film (sychronization lisence), atau mechanical license oleh perusahaan rekaman, dan sebagainya. Tidak hanya itu, ada pula pernyataan tentang hak cipta atas karya musik bagi pencipta (assignment of musical work copyright) atau pernyataan tentang hak cipta atas rekaman suara bagi artis (assignment of sound recording copyright).

Berbagai bentuk perjanjian itu pada prinsipnya menggunakan kaedah perjanjian sebagaimana dimuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Tetapi bila ditelusuri lebih jauh dalam bisnis ini akan didapati kompleksitas ketersinggungan hukum dan bisnis, yang bila kurang jeli akan menuai masalah dikemudian hari atau dari sisi bisnis menjadi tidak menguntungkan. Grup band pada bagian ini harus menemukan ahli hukum yang menguasai bidang ini.

Penulis tidak bermaksud untuk menguraikan satu persatu berbagai bentuk perjanjian tersebut karena memang hal itu akan mudah ditemukan setelah grup band telah eksis. Pada kesempatan ini secara khusus akan dikaji beberapa hal penting seputar pembentukan grup band sebagai langkah awal yang sering luput dari perhatian para pendiri grup band, akan tetapi sering menjadi sumber permasalahan hukum.

Pentingnya Nama

Nama bagi suatu grup band sangat penting karena mampu menggambarkan identitas, ciri maupun karakter musik yang berfungsi sebagai pembeda dengan grup band lain. Di samping performa, nama yang baik dapat memudahkan proses pemasaran (marketing). Nama suatu grup band akan bernilai jual tinggi sejalan dengan popularitas grup band tersebut.

Hal penting setelah penentuan nama grup band adalah menentukan siapa yang berhak menggunakan nama tersebut dan siapa pemiliknya. Apakah milik kolektif anggota pendiri grup band atau salah seorang dari anggota grup band tersebut? Selanjutnya, apabila grup band bubar, siapa yang berhak menggunakannya? Klausul-klausul inilah yang mesti telah dimuat dalam Perjanjian Band (Band Agreement). Masalah nama grup band ini kadangkala dianggap sepele tetapi tidak sedikit yang menjadi akar permasalahan hingga ke pengadilan.

Kasus yang terjadi antara Kassbaum vs Steppenwolf Productions, INC dapat menggambarkan pentingnya nama bagi sebuah grup band. Nicholas Kassbaum adalah mantan pemain bass grup band "Steppenwolf". Steppenwolf adalah grup band rock yang dibentuk pada tahun 1967 oleh Jhon Kay, Jerry Edmonton, Michael Monarch dan Goldie McJohn. Sementara Kassbaum bergabung setahun setelah grup band dibentuk. Pada tahun itu pula baru dibuat "Perjanjian Kerjasama" (partnership agreement) yang menyatakan masing-masing anggota grup band memiliki kedudukan dan kepemilikan yang sama atas Steppenwolf. Steppenwolf makin dikenal dengan berbagai macam tawaran kontrak rekaman maupun konser. Kemampuan Kassabaum memberikan karakteristik tersendiri pada setiap penampilan Steppenwolf. Pada 1971, Kassabaum keluar dari grup band dan salah seorang pendiri, Jhon Kay, menyatakan Steppenwolf bubar. Namun, pada 1975 Kassabaum dan Goldie McJohn membentuk grup band baru dengan nama "The New Steppenwolf". Penggunaan nama baru itu menuai masalah karena dianggap memanfaatkan popularitas nama Steppenwolf sebelumnya. Akhirnya Kassabaum harus membayar $ 17.500,00 kepada Jhon Kay dan Steppenwolf Productions, INC untuk memperoleh hak ekslusif (exclusive right) menggunakan nama tersebut.

Pelajaran berharga dalam kasus Kassabaum di atas adalah urgensi menentukan kepemilikan dan penggunaan nama grup band. Boleh jadi pemilik nama band hanyalah satu atau dua dari anggota inti grup band. Bila demikian, maka tidak diperkenankan membagi kepemilikannya kepada anggota lain kecuali bila anggota yang bersangkutan telah menjadi anggota tetap grup band. Lantas, bagaimana penggunaan nama band bila grup band bubar? Maka ini pun mestinya telah diatur sebelumnya, oleh karena dapat saja sebuah perusahaan rekaman (record company) yang telah menginvestasikan berbagai hal pada grup band memiliki hak untuk menggunakan nama band tersebut bila grup bubar.

Realitas di atas setidaknya memberikan sinyal penting bagi anggota grup band pemula untuk mempersiapkan Perjanjian Band (Band Agreement) secara komprehensif atau mungkin bagi grup band yang sudah berkarir lama untuk me-review perjanjian dasar grup band ini guna mengantisipasi munculnya berbagai persoalan hukum ke depan.

Struktur Band

Anggota grup band dapat saja menentukan berbagai macam hal terkait dengan grup band-nya seperti kepemilikan nama band maupun pembagian keuntungan. Dengan kata lain, grup band bebas menentukan keinginannya untuk kemudian diterjemahkan dalam berbagai dokumen hukum. Lagi-lagi, di sini diperlukan ahli hukum yang kreatif dalam memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) dari grup band.

Bagi grup band sendiri perlu memutuskan bentuk struktur bandnya. Pilihan bentuk ini akan menerangkan pertanggungjawaban atas grup band dan berdampak pada tata cara masuknya anggota baru atau bahkan bagi anggota grup yang keluar. Sulit untuk mengatakan mana bentuk struktur yang paling baik. Namun, setidaknya ada 2 (dua) tipe umum dari suatu grup band, yaitu bentuk Perusahaan Terbatas (limited company) dan bentuk Kerjasama Perdata (partnership). Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga tergantung pada mana yang dianggap lebih menguntungkan bagi grup band.
Bila grup band memilih bentuk kerjasama perdata (partnership), maka Perjanjian Band (band agreement) yang dibuat pun berbentuk Perjanjian Kerjasama Band (Band Partnership Agreement). Perjanjian ini akan memuat bagaimana grup band beroperasi setiap hari, nama band maupun pemisahan aset dan sebagainya. Seluruh anggota grup band dalam bentuk ini memiliki kesetaraan dalam pembagian keuntungan maupun menanggung bila timbul kerugian. Struktur band dengan kerjasama perdata (partnership) ini sebenarnya telah diatur dalam Pasal 1618 KUH Perdata dengan istilah yang berbeda yakni, "Persekutuan". Dalam pasal itu diuraikan bahwa "persekutuan adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi keuntungan yang terjadi karenanya".

Di samping bentuk Partnership, grup band dapat memilih bentuk Perusahaan Terbatas. Dalam bentuk ini, karakteristik Perjanjian Band (band agreement) yang dibuat pun memuat Perjanjian Saham (shareholders' agreement). Dalam beberapa hal bentuk ini memiliki kelebihan dalam pemisahan aset pribadi, peningkatan efisiensi di bidang pajak, pembagian keuntungan dan sebagainya.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa sulit untuk mengatakan struktur band mana yang terbaik. Namun yang diingat adalah pilihan bentuk akan memberikan konsekuensi hukum berbeda bagi grup band dalam hal kepemilikan nama, keluarnya anggota dari grup band atau masuknya anggota baru, pertanggungjawaban atas aset serta pembagian keuntungan yang diperoleh.

Penutup

Adalah bijaksana bagi suatu grup band apabila dalam pencapaian karir musiknya tidak mengabaikan aspek hukum yang melingkupinya. Uraian penulis di atas, hanya beberapa dari sekian banyak kompleksitas perspektif hukum terhadap suatu grup band. Merumuskan formulasi terkait grup band akan mudah dilakukan dalam keadaan grup band belum ada masalah. Perspektif hukum pada awal pembentukan grup band adalah upaya efektif dalam menyiasati kemungkinan terjadinya masalah hukum di masa datang.

Labels:

Lost Letter for Kurt

8:48 AM / Posted by metallic sucker and moslem militan / comments (0)

"Congrats Kurt, kamu udah sepuluh tahun bersama kami di sini. So let's celebrates!" ujar seorang orator ulung yang pernah hidup di bumi. Kurt lalu menyalami tangan temen-temennya itu. Ada Elvis, Jim, Cliff, Janis, John, Bob, Jimi, Fredie sampai Sid. Ini terjadi di suatu tempat yang tidak bisa disebutkan, tepat di tanggal 05 April 2004. Sudah sepuluh tahun Kurt datang dan berkumpul dengan mereka di sini. Bersama kelompok yang menamakan dirinya The Armageddon Rockstarz [untuk kalangan terbatas!]. Ikut mengibarkan bendera hitam bergambar kepala tengkorak yang konon dibuat oleh Kaisar Nero. This is the immortal post-life scene!...

Selebrasi dimulai. Api unggun dinyalakan. Di atas meja sudah tersedia beragam makanan. Roti Belgia, keju Swiss, celeng Galia dan kacang Turki. Juga kretek Jawa, cerutu Kuba dan daun Jamaika. Berbotol-botol arak Bali, bir Jerman dan anggur Prancis mulai dibuka tutupnya, plup!...

Sebuah band garage-rock diundang secara khusus dari bumi. Untuk memainkan musik yang katanya lagi hype di bawah sana. Namun semuanya terdengar sama saja. Di antara gelak tawa dan canda, tiba-tiba seorang pemuda tak dikenal yang berkaos 'lidah terjulur' datang sambil mengangkat selembar amplop...

"Kurt, barusan aku nemu surat di kotak gitar kamu. Nih!..."
Kurt bangkit menerima surat itu. Lalu dia buka perlahan...
Isinya beberapa lembar kertas A4. Agak lusuh. Kekuningan. Berisi barisan kalimat yang diketik rapi. Dengan spasi satu setengah dan font jenis Arial ukuran 11.
Kurt lalu pindah duduk di pojok. Membaca perlahan. Dalam hati. Menerawang. Something in the way...


On the earth, heaven and hell facts about Kurt Cobain


This letter is dedicated to my all-time favorite song-writer. There's so much I admired in him and it is ashamed that many great artist like Kurt Cobain ended up die not by his own will. For example John Lennon or Tupac Shakur, both are shot. However I'm here not to talk about them, but Kurt. This is my bow for his talent and braveness in facing life.

"Dari sapa Kurt?", tanya Fredie ingin tahu - sambil membelai punggung Jim [?!].
Kurt cuma diam. Menatap Fredie sebentar. Lalu terus membaca...

Kurt Donald Cobain was the former leader of Nirvana, the multiplatinum grunge band that redefined the sound of the nineties. He was born on the 20th of February 1967 in Hoquaim, a small town 140 kilometers south-west of Seattle.

Kurt berhenti sejenak. Mengancingkan flanel-nya.
Memicingkan mata. Mengerutkan dahi. Seraya berpikir...
"Mmhh, it's about me?!..."

Sementara temannya yang lain mulai mengelilingi Jim yang sedang menari ala Indian. Shaman. Jim merentangkan tangan. Dengan mata terpejam dia berputar-putar. Rupanya reaksi LSD sudah membakar darahnya. Setiap satu putaran semuanya berteriak, "C'mon baby light my fire!.."

Kurt once a happy child, always smiling, not being able to wait until the next day, but this has changed. He grew up became such an angry unhappy boy, this was reflect on his lyrics and musics. Maybe this was fueled a lot by his parent's divorce when he was seven. He became increasingly difficult, anti social and withdrawn, he never felt loved or secure again. Considering he was the only child so he must have faced this fact alone without someone to talk to. After his parent's divorce, Kurt found himself shuttled back and forth between various relatives and at one stage homeless living under a bridge.

Si Bob melirik Kurt sambil memainkan rambut gimbalnya.
Lalu berkata pelan padanya, "Everything gonna be alright, my friend."
Kurt mengangguk. Bob tersenyum, lalu melemparkan lintingannya. Jah!...

When he was eleven he heard and was captivated by the Britain's Sex Pistols. After their self-destruction, Kurt and friend Crist Novoselic continued to listen to the wave of British bands including Joy Division, the nihilistic post-punk band that some say Nirvana are directly descended from in form of mood, melody and lyrical quality.

"British conquers America! God saves the rock!"
Bendera Inggris raya diarak lari keliling api unggun oleh Sid.
"We'll never walk alone!" teriaknya membabi-buta.
"Yeah, never...never..." gumam John pelan.

Kurt's creativity and idealism attitude didn't win many friends in high school and sometimes earned him beatings from his so-called friends. But he got even by spraying their pick-up trucks "Queer".

"Kenapa aku gak boleh duduk di kursi itu?"
"Gak bisa! Kursi itu udah lama kami siapkan buat Ozzy. Suatu saat dia pasti datang!"
"Huh, Ozzy?! The MTV rockcraps?!..."
"No, he's the king of all metalheads! Trus kursi di sebelahnya itu milik Mick, lalu Pete, dan juga Roger!"
"Why not Britney??..."

Kurt formed and reformed a series of bands before Nirvana came to be in 1986. Nirvana was an uneasy alliance between Kurt, bassist Crist Novoselic and eventually drummer multi-instrumentalist Dave Grohl.

"Eh, kenapa Euronymous gak dateng ya?"
"Mmhh, tadi aku liat dia sedang asyik baca buku Dialog Dengan Jin..."

By 1989 Nirvana recorded their rough-edged first album Bleach for local Seattle independent label Sub-Pop. In Britain, Nirvana received a lot of recognition and in 1991 Geffen bought their contract, they signed to the mega-label, the first non-mainstream band to do so. Two and a half year after Bleach, they releases Nevermind, a series of different, crunching, screaming songs that along with it's first single Smells Like Teen Spirit would propel Nirvana to a mainstream stardom.

Janis naik ke atas meja. Mengangkat kedua tangannya. Lalu berteriak...
"Give me a D...R...U...G....S... please spell it guys?!"
"Drugs!" jawab mereka serempak.

Kurt fell into heroin in the early 90's. He said he used it as a shield against the rigorous demands of touring and to stop the pain of stomach ulcers or an irritated bowel. Through the touring and pressure, Kurt continued to write his very personal acutely focused lyrics.

"Benarkah kamu dulu hates your own self and want to die?!", tanya Sid yang sampai sekarang masih yakin kalau titel 'Nevermind' itu terinspirasi dari album dia dulu. Nevermind The Bollocks! Pistols Shock USA!...
Kurt tidak menjawab. Sid kesel, "Huh, all Americans are craps!..."

Kurt was distressed to find out that what he wrote and how it was interpreted could quite often be miles apart. He was shocked when he found out that apparently two men had sung Polly, a heavily ironic anti-rape song, as they raped a young girl. He later appealed to fans on their newest album, Incesticide liner notes; "If any of you don't like gays or women or blacks, please leave us the fuck alone."

It was to no avail, Kurt found out that as an overnight millionaire musician control was something he had very little of. Kurt also worried that his band had sold-out, that it was attracting the wrong kinds of fans [i.e. the type that used to beat him up].

After that, In Utero and MTV Unplugged albums was released. The previous year he married the already pregnant Courtney Love and later in the same year, his daughter Frances Bean Cobain was born.

After his performance with Nirvana for MTV Unplugged in November 1993, Kurt was registered for some detox program in Los Angeles but fled after only few days of the program. He also had committed unsuccessful suicide bid in which he washed down about 50 prescription painkillers with champagne.

"Haha, drugs won't kill you!', seru Jimi ngakak.
"No, not at all. Stop the guns dealer first, then the drugs dealer after thats!"
"And don't ever buy an apartment in Liverpool too...", sambung John.
"So that's why the world is so deadly, yeuh!"
Semua tertawa...

Kurt was cited in the Seattle area with a shotgun. Days later on the 5th of April 1994, Kurt went into the small room above his garage in his Seattle home and ended it all. He wrote a suicide note written in red ink addressed to Love and their 19 month old daughter Frances. The suicide note ended with the words, "I love you, I love you..."

Cliff menarikan jarinya di atas dawai bass. Dari fret ke fret. Jarinya berlari.
Lalu mendadak berhenti. Menatap kurt. Dan bertanya...
"Bagaimana rasanya menembak kepala sendiri?!"
Sambil tetap memainkan intro lagu 'To Live Is To Die'...

Until now his suicide action was doubt by some people including myself, I believe that it was an act of murdered, because he had a new will made up by his lawyer giving Frances everything as he was going to divorce Love, but the will hadn't finished made yet. So do you think he would have committed suicide before he knew Frances would get everything? Besides, there were defense marks on his arms indicating that someone forcibly hit him up with more heroin that he wanted to do and with that level of heroin I don't think he had the strength to lifted the gun and shot himself in his mouth, get up after that put all his heroin needles back nicely leave his wallet lying out his cards right in the open and wipe everything clean of prints! It couldn't have been easy, try it sometimes. Can't forget the door that could only be locked from outside, and guess what? It was locked!...

Dengan gitar bolongnya, Janis teriak dan bernyanyi...
"Rape me... Rape me, my friend... Rape me... Rape me again..."
Sejenak dia berhenti dan berseru, "These song for you Kurt!"
Kurt cuma tersenyum. Manis.
Lalu Janis nyanyi lagi, "I'm not the only one...Aaaaaaaa...."

I think the police was paid for not investigated this. What about there were only a few drops of blood which would indicate that his heart had stopped pumping when he was shot? There was only a little blood trickling out of one of his ears while we know when a person shot in his mouth, a great amount of blood will flew up from his ears, if the person before is alive.

"Eh Kurt, udah denger Blink 182 yang baru? Gila man pokoknya!", tanya Elvis antusias.
Elvis emang lagi tergila-gila ama Blink 182. Terutama lagu 'I Miss You' yang menurutnya keren banget.
Fredie membantah. Menurutnya The Darkness itu yang paling cool untuk saat ini.
Keduanya lalu bertengkar. Bahkan hampir adu jotos.
Kurt tidak menggubris mereka berdua.
Dia masih terus membaca...

I think, and this is only my personal opinion, that kurt was murdered by his wife Courtney Love, or maybe someone she hired. This can be predict by her weird perfect alibi that she was in a hotel room soaked with drugs, and someone strangely called the police to pick her up to the police station at the exact time Kurt killed himself in his house, it's all really confusing. And why she didn't want to read Kurt suicide note completely to the public saying that it's none of the fans business? The note published in the internet was fake because it's not the same with the one she sung in a song tribute to Kurt and the one she read in some TV shows. Everyone knows that she married Kurt only for her own fame. She didn't love him, she didn't care about him and she will never do. The tears are obviously faked.

Tiba-tiba John menghampiri Kurt. Menyalaminya sambil berkata, "Congrats boy, sekalipun kau Amerikan, tapi kau lumayan berbakat. Musikmu memang bukan seleraku, tapi lirik kamu bagus. Aku senang kamu ada di sini..."

Nevertheless, this is from my personal opinion. The angry fans who furious that his idol has been taken away in such way. If you want to know the case, browse to the internet for his info and find out what really happen to him. Kurt cobain should have been 37 this year if he is alive and would have made more great songs.

Peace. Love. Empathy.

In the memory of Kurt Donald Cobain [RIP]
August 20th 1967 - April 5th 1994

Itu saja. Selesai sampai di situ surat yang dibaca Kurt.
Tanpa tanda tangan maupun nama pengirim.
Dia masih bingung. Siapa sih yang bikin surat ini?!
Kok sentimentil banget? Buat apa? Buat siapa?...

Sementara di ujung sana Jimi mulai membakar gitarnya di atas api unggun.
Sedangkan yang lain berdiri bergandengan tangan. Mengitari Jimi dan jilatan api yang sedang beraksi di puncak acara. Sambil menyanyikan lagu 'Kemesraan' yang di-medley dengan 'We Will Rock You'.

Kurt mulai sedikit tersenyum.
Antara lega, puas atau merasa geli?!

Dia cuma bisa diam sambil melirik banner digital print bertuliskan 'The Armageddon Rockstarz' yang terikat pada dua batang pohon pinus. Dia betah di sini...
"Mmh, biarlah misteri ini aku bawa mati," pikirnya dalam hati.

Kurt lalu melipat surat tadi. Memasukkan kembali ke dalam amplop. Perlahan. Hingga tiba-tiba matanya terhenti pada dua baris kalimat berukuran kecil. Dia dekatkan pandangnya dan membaca. Lalu sontak ia terbelalak kaget. Nafasnya mulai tersengal. Keringat dingin mengucur. Tangannya gemetar. Kurt seperti nyaris pingsan. Di tepi kiri atas amplop itu tertulis...

To : solidrock at malang indonesia
Isi : sumbangan esai

Labels:

Dragon Force concert

8:24 AM / Posted by metallic sucker and moslem militan / comments (0)

Nov. 01 - Pipeline Café - Honolulu, HI Order Tickets
Nov. 03 - The Showbox SoDo - Seattle, WA Order Tickets
Nov. 05 - Regency Cntr@ Grand Ballroom - San Francisco, CA Order Tickets
Nov. 07 - Wiltern Theatre - Los Angeles, CA Order Tickets
Nov. 08 - SOMA - San Diego, CA Order Tickets
Nov. 10 - Marquee - Phoenix, AZ Order Tickets
Nov. 11 - House of Blues - Las Vegas, NV Order Tickets
Nov. 13 - The Great Salt Air - Salt Lake City, UT Order Tickets
Nov. 14 - Ogden Theatre - Denver, CO Order Tickets
Nov. 15 - Sunshine Theatre - Albuquerque, NM Order Tickets
Nov. 17 - House of Blues - Dallas, TX Order Tickets
Nov. 18 - House of Blues - Houston, TX Order Tickets
Nov. 19 - Stubbs - Austin, TX Order Tickets
Nov. 21 - The Tabernacle - Atlanta, GA Order Tickets
Nov. 22 - House of Blues - Orlando, FL Order Tickets
Nov. 23 - House of Blues - Myrtle Beach, SC Order Tickets
Nov. 25 - Irving Plaza (moved from Roseland Ballroom) - New York, NY Order Tickets
Nov. 26 - Starland Ballroom - Sayreville, NJ Order Tickets
Nov. 28 - Rams Head Live - Baltimore, MD Order Tickets
Nov. 29 - The Palladium - Worcester, MA Order Tickets
Nov. 30 - Electric Factory - Philadelphia, PA Order Tickets
Dec. 02 - The Medley - Montreal, QC Canada Order Tickets
Dec. 03 - Imperial - Quebec City, QC Canada Order Tickets
Dec. 05 - Kool Haus - Toronto, ON Canada Order Tickets
Dec. 06 - Royal Oak Music Theater - Royal Oak, MI Order Tickets
Dec. 07 - Agora Ballroom - Cleveland, OH Order Tickets
Dec. 09 - The Rave - Milwaukee, WI Order Tickets
Dec. 10 - House of Blues - Chicago, IL Order Tickets
Dec. 12 - MYTH - Minneapolis, MN Order Tickets
Dec. 13 - Burton Cummings Theatre - Winnipeg, MB Canada Order Tickets
Dec. 15 - Events Centre - Edmonton, AB Canada Order Tickets
Dec. 16 - MacEwan Hall - Calgary, AB Canada Order Tickets
Dec. 19 - Croation Cultural Centre - Vancouver, BC Canada Order Tickets

ULTRA BEATDOWN EUROPEAN TOUR 2009
Special guest: Turisas

Wed 28th Jan - Netherlands, Tilburg - 013 Order Tickets
Thu 29th Jan - Netherlands, Amsterdam - Melkweg Max Order Tickets
Fri 30th Jan - Belgium, Hasselt - MOD Order Tickets
Sat 31st Jan - France, Paris - Elysee Montmartre Order Tickets
Mon 2nd Feb - France, Bordeaux - Barbie Order Tickets
Tue 3rd Feb - Spain, Barcelona - Apolo Order Tickets
Thu 5th Feb - Portugal, Lisbon - Cine Teatro Corrios Order Tickets
Fri 6th Feb - Spain, Madrid - Heineken Order Tickets
Sat 7th Feb - Spain, Bergara - Jam Order Tickets
Mon 9th Feb - Italy, Milan - The Rolling Stone Order Tickets
Tue 10th Feb - Switzerland, Pratteln - Z7 Order Tickets
Thu 12th Feb - Hungary, Budapest - A38 Order Tickets
Fri 13th Feb - Austria, Vienna - Szene Order Tickets
Sat 14th Feb - Slovenia, Maribor - Stuk Order Tickets
Mon 16th Feb - Germany, Munich - Backstage Order Tickets
Tue 17th Feb - Germany, Stuttgart - Die Rohre Order Tickets
Thu 19th Feb - France, Strasbourg - La Laiterie Order Tickets
Fri 20th Feb - Germany, Cologne - Underworld Order Tickets
Sat 21st Feb - Germany, Hamburg - Knust Order Tickets
Sun 22nd Feb - Germany, Berlin - Kato Order Tickets
Tue 24th Feb - Denmark, Copenhagen - Vega Order Tickets
Wed 25th Feb - Sweden, Gothenburg - Brewhouse Order Tickets
Fri 27th Feb - Norway, Oslo - John Dee Order Tickets
Sat 28th Feb - Sweden, Stockholm - Tyrol Order Tickets
Mon 2nd Mar - Finland, Oulu - Teatria Order Tickets
Tue 3rd Mar - Finland, Helsinki - Tavastia Order Tickets
Thu 5rd Mar - Russia, St. Petersburg - Club Orlandina
Fri 6rd Mar - Russia, Moscow - Club Tochka

ULTRA BEATDOWN JAPAN TOUR 2009

Mar 26th Fukuoka, Japan - Zepp
Mar 27th Osaka, Japan - Zepp
Mar 30th Tokyo, Japan - Zepp
Mar 31st Nagoya, Japan - Zepp
Apr 2nd Sendai, Japan - Zepp
Apr 4th Sapporo, Japan - Zepp

Labels:

Dischography of Dragon Force's album

10:34 AM / Posted by metallic sucker and moslem militan / comments (0)

ULTRA BEATDOWN - BIOGRAPHY

Every year there are albums eagerly anticipated, be it from hot young names, established legends or – and this is usually the most exciting of all the categories – those bands you know are on the verge of greatness.
As DragonForce, the multi-national talent based in London – prepare to release their fourth album, nobody who understands the world of metal can have any doubt that ‘Ultra Beatdown’ (as the record is to be called) is most certainly being awaited with a real sense that we are about to witness a band going from being ‘potential international stars’ to becoming a ‘major global phenomenon’.

“Every album is different for us,” says guitarist Herman Li. “We never want to repeat what’s done before. And that makes each record we do that little bit more difficult. On this one, we rejected so much because it was going over old ground. We’d heard it before. We’re not a band who get stuck with a formula and are just content to repeat the same thing over and over again.”

‘Ultra Beatdown’ has three hard acts to follow. If ‘Valley Of The Damned’ established the sextet’s fearless credentials in 2003, then ‘Sonic Firestorm’ (’04) and ‘Inhuman Rampage’ (’06) each took them further forward. In fact, the last named has now sold in excess of 300,000 copies in America alone (and half a million worldwide), spawning the Gold single ‘Through The Fire And Flames’, thereby giving DragonForce the cachet of being the most successful new British metal act in America for two decades!

However, the ‘Force are not a band to feel the impact of any undue outside influences. All the demands come from within the tight-knit group of Li, fellow guitarist Sam Totman, vocalist ZP Theart, keyboard player Vadim Pruzhanov, bassist Frederic Leclercq and drummer Dave Mackintosh. Like all the great bands you care to mention, the pressure is internal and eternal, always pushing the band to improve and develop.

“You’ll find, for instance, that on this album we’ve been more varied in our pacing of songs. I’m not suggesting for a moment that we’ve really slowed right down. But, whereas in the past, you could say that things were fast all the way through, this time we made a real effort to be a little less frenetic throughout. I believe the approach works extremely well.”
One thing DragonForce have always been good at delivering are songs with a tremendous melodic depth. Whatever other qualities they have – and there are plenty – it’s this trait that long ago marked them out as a class apart from many of their peers. Name any giant of the genre over the past 40 years or so, and they’ve always possessed the ability to compose a cunning tune or several. The same applies here.

“There have been people who believe all we do is play fast. But to me, the most important part of any song is the melody. We’re proud of what we’ve achieved so far, but also feel this time it’s on a new level. Merely being fast isn’t enough to get you noticed and respected.”

The process in creating the new album began an amazing 18 months ago, when the first ideas were thought through. Studio work began to get into the groove last October, with a brief break at the end of the year for The Black Crusade European Tour.

“We didn’t ever feel as if there was a time scale involved here. We just did whatever it took to make this the best album of our career to date. The way we’ve always done things means that what is written and demoed in the first place is rarely what we end up with in the studio. Our songs develop, evolve and change as we go along. It makes the studio an interesting place, because we’ll come up with new ideas all the time.

“Lyrically, we’re taking a look at life and what goes on in the world, but doing this in the usual DragonForce way!”
The new record is once again produced by the tried and trusted team of Li, Totman and Karl Groom of British prog metalheads Threshold, basing themselves at both Li’s studio and Thin Ice Studios in Surrey, where Groom does much of his work. The two guitarists have been involved with all production since the first album along with Groom since their first demo.

“Our attitude is: why change what works for us? No producer could know better than the team of Herman Li, Sam Totman and Karl Groom what this band should sound like. If we had someone else as producer, then all we’d do is argue constantly, and then ignore them anyway! So, it would be a waste of everyone’s time.
“The day we bring in another producer will be the day that we have no ideas at all, and need help…actually, when that day arrives we’d split up! What would be point of continuing when we’re past our peak?”

‘Ultra Beatdown’ is the album to take DragonForce to a new height. It’s not merely the culmination of a decade crafting and finessing a sound that has made them instantly recognizable across the world. It’s not even state-of-the-art for metal, nor just a gantlet being thrown down for everyone else. This is more than that. It’s DragonForce beating a difficult, yet ultimately satisfying, path. Experimenting, taking risks, being bold – precisely what you’d expect any masters of their art.
“Is this the peak of our career? I don’t think so,” insists Li. “But it’s a further step forward. So far, there are six people who like ‘Ultra Beatdown’ – the members of DragonForce. And if we’re happy, then that’s all we can do. Hey, I can actually listen to what we’ve done here, and enjoy the experience!”
The rest of the world will follow. Just watch!

Malcolm Dome,
London, June 2008

Labels: